0 di keranjang

No products in the cart.

DAMPAK PERJUANGAN KARTINI BAGI JAPARA

Ketika ayah Kartini diangkat menjadi bupati, Japara masih ibukota karesidenan (yang membawahi Pati dan Kudus. Sebuah karesidenan adalah wilayah administatif terbesar pada massa penjajahan Belanda). Namun karena rasionalisasi pada tahun 1898, Japara turun posisinya menjadi wilayah di bawah karesidenan Semarang. Jaringan tram dan kereta api tidak pernah mencapai Japara kota (paling jauh hanya sampai Pecangaan). Isolasi sudah di depan mata. Kebangkitan industri ukir kayu Japara yang diayomi Kartini, meenjadi berkat bagi kabupaten ini. Kartini meramalkan pekerjaannya bersama pekerja-pekerja ukir kayu Japara akan menciptakan masyarakat Jawa yang modern dan mandiri (Coté, 2014 : 12, 51).

Memang, keterlibatannya dalam produksi ukir kayu Japara bagi pasar Eropa adalah hasil praktis yang paling signifikan dari segala aktivitasnya (Coté, 2014 : 49). Kartini mendiskusikan dan bahkan mengembangkan bentuk-bentuk baru, yang antara lain bisa dilihat dari foto-foto dan deskripsi di bawah ini. Kata-kata tidak cukup untuk melukiskan betapa kreatifnya beliau.

Kerajinan Seni ukir dan batik Kartini Japara IndonesiaKriya Kartini Japara : batik (1900), kotak-kotak kayu dan lukisan tiga angsa (1902) (Sumber : KITLV)

Kartini mendeskripsikan idenya untuk sebuah kado bagi Rosa Abendanon :

“Sekarang pun saya sudah tahu sesuatu yang bagus bagi Ibu, juga sebuah tirai kecil, tetapi dalam bentuk suatu lakon wayang. Tirai itu berbentuk daun, ukirannya tembus pandang, menggambarkan sebuah pohon yang di dalamnya burung dan kupu-kupu beterbangan kian-kemari dan hinggap – batangnya terletak pada tokoh wayang, seorang raksasa dengan sayap yang luas; 2 ekor ular meliliti batang-batangnya, kepalanya dengan mulut ternganga lebar, beristirahat pada kepala raksasa. Di bawah sayap atau lengan raksasa ini, 2 ekor harimau melompat hendak menerkamnya. […] Untuk barang ini saya akan berusaha mendapatkan kayu putih […] Jenis kayu ini kurang atau tidak dikenal dan hasilnya baik, banyak menyerupai gading dan harum (bukan kayu sandal atau rasamala).

Tirai ini bersandar pada kaki dan kaki itu berdiri di atas tiang kayu jati yang akan diukir seperti tiang-tiang rumah Bumiputra yang baru-baru ini kami kunjungi, indah sekali. Dan tirai itu sekarang untuk apa? Sebagai standar potret. […] sisi belakang ukiran tembus pandang itu dilapisi kain satin atau beledu dan di atasnya dimasukkan karton. Tepi karton antara foto dan bingkai untuk potret dilapisi sutra atau beledu, dan ini dilukisi atau dibordir dengan gambar-gambar yang cocok dengan figur-figur yang diukir. Misalnya seekor ular dari bordiran emas atau perak, dengan anggun melingkari potret medalion, di depan kepalanya yang congkak dengan mulut ternganga terdapat sebuah potret lagi, atau boleh juga 2 ekor ular dengan kepala saling melingkar menyatu melingkari sebuah potret. Di situ terdapat lagi tokoh-tokoh wayang sedang berperang, tangannya terbentang menolak dan di antaranya sebuah potret, di atasnya melayang seekor burung garuda mengitari figur-figur itu, di bawah cakarnya sebuah potret, seolah-olah burung itu melepaskan potret tersebut.” (Jacquet, 1987 : 265-266)

Japara, 10-6-1902

Tentang Gong Senen, Kartini menulis dalam artikelnya ‘Dari Sebuah Sudut yang Terlupakan’ di majalah Eigen Haard tanggal 3 Januari 1903 :

“Dan gamelan tua, sangat tua itu, yang dimainkan tiap Senin pada siang/sore hari – dan oleh karena itu dinamakan Gong Senen. Ia memanggil kenangan akan masa-masa silam ketika suaranya yang bersuka memanggil para ksatria guna bersiap-siap mengikuti pertandingan. Kini malah menakutkan orang asing dengan suaranya yang begitu usang sampai hampir tidak lagi bisa disebut gamelan.”

Dalam artikel ini, Kartini mempromosikan Japara, yang saat itu hanya dihampiri orang jika mereka harus dan tidak ada pilihan lain. Orang luar yang karena pekerjaan harus tinggal di Japara, merasa tempat ini bagai tempat pengasingan, membosankan dan ingin sekali cepat-cepat meninggalkannya. Kontras sekali dengan rasa bangga Kartini akan Japara :

“Engkau sangat manis, sangat memesona dengan udaramu yang damai; jalan-jalanmu yang indah dan teduh yang mengundang orang menapakinya, dengan sudut-sudut intim yang menyambut kawan berkumpul bercanda-tawa; alun-alun indahmu yang selalu terbentang dalam jubah hijau velvet dihiasi titik-titik bunga, yang berkembang dalam taman yang anggun, dikelilingi pohon beringin yang meneduhi rumah-rumah di belakangnya […] ; laut surgawimu yang membuat kita lupa akan kekhawatiran duniawi kita, mengayun-ayun kita di atas buih ombaknya dan melingkupi kita dengan nafasnya yang segar, sehat dan membangkitkan semangat; pantai indahmu tempat orang bisa menikmati tontonan alami nan indah, lukisan penuh warna dan cahaya akan mentari yang meninggalkan langit dan bentangan air beriak, yang riaknya – sekarang hanya percikan kecil tapi lain kali mengalir serampangan – pecah di pasir putih.”

“Karena engkau kaya, Japara, lebih kaya daripada kota-kota kecil lainnya yang tidak dipandang; lebih istimewa daripada banyak kota besar, yang menawarkan kesempatan untuk bepergian tiap hari, di mana ‘lebih menyenangkan’! Engkau kaya, engkau istimewa karena engkau memiliki sebuah harta karun yang akan membuat banyak, banyak sekali orang iri, dan yang akan membuat Insulinde bangga.”

Harta karun tak ternilai yang beliau maksudkan tidak lain adalah kriya, yang ia sebut sebagai “seni yang indah dari rakyat”. Kartini ingin sekali agar “harta tak ternilai yang telah terlalu lama tersembunyi” ini, yang “terkubur di bawah debu kelembaman”, bisa dibukakan. Äda harapan, banyak harapan akan hal ini!”

Bukan cuma keuntungan finansial yang bisa dicapai, yang berarti juga lapangan kerja terbuka lebih lebar, tapi tujuan utama Kartini untuk ‘mendidik’ orang (asing) akan keluhuran budaya kita bisa tercapai.
Penulis :Daniel F.M. Tangkilisan

Baca juga artikel terkait :

Pusaka Seni Kriya kartini Japara

Pameran Nasional Karya Perempuan

%d blogger menyukai ini: