0 di keranjang

No products in the cart.

Dibalik Japara, Mbah Kartini dan Rumah Kartini

Beberapa kali ada yang menanyakan perihal kenapa di website ini kami menyebut Jepara dengan kata Japara? Mengapa pula komunitas kami menyebut Kartini dengan menyisipkan kata “Mbah”. Nah, pada kesempatan ini kita mau bercerita sekaligus menjelaskan alasan kenapa kami pada khususnya melakukan hal tersebut.

Komunitas Rumah Kartini terbentuk pada tahun 2008, sebagai komunitas yang tidak hanya mencintai sejarah Kartini dan Japara, kami juga mencintai hasil seni Japara. Sebagai pecinta seni, sudah lumrah kalau kita menginginkan sesuatu yang beda dari yang lain sebagai sebuah identitas. Rumah Kartini menyebut Jepara dengan kata Japara sebagai identitas atau ciri khas didalam komunitas ini. Kami juga tidak ngawur dan membuat-buat mengenai istilah Japara, karena jika ditarik mundur, sejarah mengatakan bahwa dahulu Kabupaten Jepara bernama Japara. Dan kami memiliki cukup bukti mengenai hal tersebut.

Beberapa tahun yang lalu, kami Komunitas Rumah Kartini pernah membuat mural di SCJ (Shopping Center Jepara), dan kami menggunakan kata Japara dalam mural yang kami gambar malam itu. Beberapa pemuda yang menyaksikan kagiatan kami menghampiri dan menegur bahwa tulisan kami salah, “Tulisanmu salah mas.. Kudune nganggo E (Jepara), ora nganggo A (Japara).” Kami pun hanya mengiyakan protes pemuda tersebut, “oh iyoo.. aku salah iki mau, wes ben ya malah apik” dan kami melanjutkan menggambar karena sadar bercerita tentang sejarah dan membuat orang meyakini dengan penjelasan kami tak segampang itu.

Namun, sesaat kemudian ada satu hal yang membuat kami meletakkan alat perang kami, seorang kakek yang tidak kami kenal menghampiri dan bertanya. Kira-kira pertanyaannya seperti ini: “Kok ngerti Japara mas?” Tanya kakek tadi. Kami pun menghentikan pekerjaan kami dan memilih untuk berdialog dengan kakek yang menghampiri sambil membawa pit onthel untuk menggali lebih banyak cerita-cerita tentang Japara pada masa lampau.

Hal paling mudah yang dapat kita temukan adalah, persatuan sepak bola yang kita kenal bernama PERSIJAP, bukan PERSIJEP.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa dahulu Jepara bernama Japara adalah adanya tulisan dirumah salah seorang leluhur anggota kami bertuliskan Japara 1929 pada temboknya. Kami pun memfoto dan mempublish ke dalam sosial media dengan tujuan memberitahukan kepada masyarakat tentang sejarah ini. Kami juga memiliki bukti lain untuk menguatkan fakta tersebut, yaitu sebuah peta kuno tahun 1858 yang bertuliskan Japara.

Bukti lainnya adalah bahwa dahulu pada tahun 1400-an mbah Pati Unus sebelum mbah Kalinyamat, juga pernah membicarakan tentang Japara. Namun sayangnya kami belum menemukan data kapan perpindahan nama Japara menjadi Jepara karena belum ada bukti untuk menjawab hal tersebut. Sebelum berganti Jepara, kabupeten ini sempat mengalami pergantian nama berkali-kali, mulai dari Ujungpara, Jumpara, Japara hingga menjadi Jepara. Namun Ujungpara tidak terlalu dikenal, karena masyarakat kurang tahu dan sedikit mendengar tentang sebutan Ujungpara pada masa itu.

Untuk pertanyaan terakhir, beberapa dari pembaca ada yang menanyakan, mengapa kami menyebut Kartini dengan sebutan Mbah Kartini? Disini, terutama dalam Komunitas Rumah Kartini, kami menjadikan Kartini sebagai sosok leluhur dari Japara, sehingga kami menyebut Mbah Kartini semata-mata karena menghormati leluhur dan juga sebagai identitas komunitas.

%d blogger menyukai ini: