0 di keranjang

No products in the cart.

DiBalik Reproduksi Pusaka Gong Senen Japara

Budaya Jawa dari dahulu kala memang lekat dengan legenda atau mitos yang muncul dan berkembang di masyarakat. Bahkan sampai sekarang pun kepercayaan akan hal-hal seperti itu masih tetap mengalir di kehidupan masyarakat Jawa. Salah satunya adalah legenda dari pusaka tua peninggalan sejarah Japara, Gong Senen.

Gong sendiri bisa diartikan sebagai alat musik jawa, dan Senen berarti hari Senin. Beberapa sumber mengatakan bahwa dahulu ada alat musik gong yang hanya bisa dibunyikan pada hari Senin, kemudian dinamakan Gong Senen. Selain itu, kata Senen sendiri juga berhubungan dengan sebuah desa di Japara yang bernama desa Senenan. Konon, pada zaman dahulu hanya orang dari Senenan yang dapat membunyikan gong tersebut.

Pak Badrus adalah salah satu seniman yang dipercaya Rumah Kartini dalam mereproduksi Gong Senen. Ia bercerita bahwa Kartini pernah menulis dalam salah satu suratnya tentang gong tua yang biasa dibunyikan pada hari Senin di pagi dan sore hari. Pak Badrus juga menceritakan banyak kendala saat proses reproduksi berlangsung. Entah itu kendala biasa sampai hal-hal yang tidak masuk dinalar.

Gong Senen merupakan salah satu pusaka Japara yang direproduksi Rumah Kartini. Gong Senen bisa dikatakan benda peninggalan yang paling rumit dan susah untuk direproduksi kembali. Bentuk-bentuk atau ornamen ukiran yang beda dengan pakem motif ukiran saat ini serta pemilihan seniman yang harus orang Senenan membuat reproduksi Gong Senen semakin rumit.

Kendala yang paling utama dari proses reproduksi Gong Senen adalah minimnya data referensi. Jadi Rumah Kartini harus melakukan riset untuk mendapatkan data tambahan. Dan mendapatkan tiga foto yang menguatkan proses produksi. Foto-foto tersebut bersumber dari kerajaan Belanda, ANRI, serta majalah kuno yang salah satu penulisnya adalah Notosuroto.

Proses reproduksi juga terkendala dalam hal ukuran gong senen serta detail-detail nya seperti apa. Contohnya gayor gong yang kami sendiri belum tahu itu ukurannya berapa serta ketebalannya berapa. Jadi, kami menggunakan skala perbandingan dengan bantuan beberapa ahli serta menambahkan perhitungan ilmu jawa yang juga dibantu oleh spiritualis.

Proses pengukiran harus dikerjakan oleh lima orang seniman selama delapan bulan. Karena detail Gong Senen yang susah, maka lima orang seniman ini merupakan seniman terbaik di Japara yang memiliki skill tinggi dan berasal dari desa Senenan Japara.

Sebetulnya tidak banyak seniman yang bersedia ikut membuat Gong Senen. Kebanyakan dari mereka takut karena di Japara kususnya Senenan, Gong Senen masih dikeramatkan. Ada juga seniman yang awalnya bersedia, tetapi karena ada tekanan batin dalam membuat gong tersebut, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Untuk melihat proses Reproduksi gong senen kami bisa follow di beberapa akun sosial media @Rumahkartini
Instagram
Twitter
Facebook
atau dengan hastag #SHFJapara

%d blogger menyukai ini: