0 di keranjang

No products in the cart.

KARTINI DAN BAHASA BELANDA

KECINTAAN AKAN BAHASA BELANDA

Sebagai seorang Jawa, Kartini sangat meguasai bahasa Belanda. Sosroningrat dan anak-anaknya berbicara bahasa Belanda dengan fasih. Ayah Kartini memerkerjakan seorang guru pribadi untuk mengajari anak-anaknya dalam bahasa Belanda sebagai persiapan Kelas Pertama Sekolah untuk Orang Eropa di Japara. Semasa ia dipingit, Kartini dan adik-adiknya, Roekmini dan Kardinah, setiap hari dibawa ke rumah keluarga Ovink guna mendapat pelajaran konversasi dari ibu Marie Ovink-Soer.

Pendapa kabupaten Japara, terutama kamar tidur Kartini, memiliki perpustakaan bahasa Belanda. Perpustakaan ini dipenuhi koran-koran dan majalah-majalah sastra dan budaya, antara lain koran De Locomotief dari Semarang, De Gids, De Nieuwe Gids, majalah Wetenschappelijke Bladen en de Bijdragen. Ia membaca karya-karya Multatuli sebelum usia dua puluh tahun dan novel De stille kracht, kisah drama bernafas mistik Jawakarya Louis Couperus. Kartini membacanya dari kaca mata Jawa guna mengambil pelajaran moral darinya (Nieuwenhuys, 1978 : 317).

Bahasa Belanda adalah medium yang Kartini pakai untuk menyampaikan aspirasinya dalam usahanya guna meyakinkan segelintir orang Eropa yang simpatik akan perjuangannya bagi dirinya sendiri dan bagi rakyat jawa pada umumnya. Bahasa Belanda adalah wahanayang ia tunggangi untuk mengarahkan dan mestimulasi keingintahuan orang Eropa akan “sesuatu yang lain” (Coté, 2014 : 43).

Kartini pernah mendapat tawaran dari seorang wanita Belanda, redaktur sebuah organisasi wanita ternama, untuk “menjadi pegawai majalahnya – untuk menulis surat setiap 14 hari sekali.” (Jacquet, 1987 : 150). Artikel-artikel etnografisnya diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlands-Indië, jurnal ilmiah terdepan saat itu.

“[…], wat ze schrijft, en de wijze waarop ze schrijft, dit alles wekt een gevoel van genegenheid, respect […] om de heldhaftige wijze waarop ze haar ‘verzwegen strijd’ heeft gevoerd.”

“[…], apa yang ia tulis, dan caranya menulis, semua ini membangkitkan rasa cinta kasih, rasa hormat […] terhadap cara kepahlawanannya dalam melaksanakan “perjuangan diam-diam”-nya.” (Nieuwenhuys, 1978 : 307).

Tujuannya agar seni kriya Japara dikenal dunia, ia coba capai dengan menceritakannya dan bahkan menawarkannya (jadi ia berdagang) dalam bahasa Belanda yang sangat rapi dan “kromo”. Hal itu ia lakukan dalam surat-surat pribadinya kepada sepuluh orang Belanda berkedudukan penting saat itu, antara lain nyonya Abendanon-Mandri, istri Jacques Henri Abendanon, menteri Pendidikan, Agama dan Kriya Hindia-Belanda (yang kemudian mengumpulkan dan menerbitkan beberapa suratnya dengan judul Door duisternis tot licht (yang arti sebenarnya adalah ‘Melalui Gelap Sampai ke Terang’) dan Nellie van Zuylen-Tromp, presiden organisasi Oost en West Vereeniging.

Yang merajai sebagian besar tulisannya adalah keinginannya untuk “mendidik” orang Eropa agar persepsi dan dukungan mereka terhadap aspirasi orang Jawa bisa dipengaruhi (Coté, 2014 : 26).
Penulis :Daniel F.M. Tangkilisan

Baca artikel Terkait :

Pameran Nasional Karya Perempuan

Dampak Perjuangan Kartini bagi Japara

%d blogger menyukai ini: