0 di keranjang

No products in the cart.

Kereta Api Japara

Sebuah buku karya Rudolf Mrazek, Profesor Sejarah di University of Michigan. Dalam buku yang diterbitkan Juni 2006 ini membahas karakteristik teknologi di era akhir Kolonial Hindia Belanda. Analisis buku ini tajam dalam hal mempengaruhi cara berpikir kita terhadap banyak hal.

Buku yang berjudul “Engineers of Happy Land : Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni.” Ia telah menulis berbagai topik seperti sepatu, semen, dan klub motor sedemikian rupa sehingga memaksa kita bersudut pandang lain tak hanya tentang teknologi, namun juga soal kolonialisme, nasionalisme, dan revolusi.

Pada tahun 1842 raja Nederland, Willem I, mengeluarkan dekrit kereta api yang pertama untuk Hindia Belanda : “Guna memajukan transportasi produk dan benda lain dari Semarang ke Kedoe, WilayahVoorsten Landendi Jawa, dan sebaliknya, akan dibangun sebuah jalur rel kereta api dari besi.”

Namun kali iniRumah kartiniakan spesifik membahas mengenai keberadaan trem pertama yang ada di Japara. Pusat Kota Japara amat jauh dari semua jalan Hindia Belanda modern yang baru dan sedang muncul. Orang harus naik kuda atau kereta kuda melalui jalanan tanah, yang sering berlumpur, menuju ke Majong. Di situ orang dapat naik trem uap untuk menuju ke Juwana dan Semarang.

Dalam salah satu surat Kartini pernah menuliskan mengenai pengalamannya saat naik trem ini.

“Di kereta… saya menekan tangan saya ke jantung saya… saya mendengar banyak hal di trem itu.” “Sekarang, kami terbang dengan sebuah badai di atas jalan besi itu.” “Akankah aku pernah dapat melupakan perjalanan ilahi bersamanya menuju stasiun itu?… Jangan terbang terlalu cepat di atas jalur-jalur besi yang rata, kamu monster beruap yang bersin-bersin, jangan membiarkan perjumpaan indah ini berakhir dengan begitu cepat… Saya berdoa agar perjalanan itu tak akan pernah berakhir… Tetapi, aduh! Juru apinya tidak mendengar aku.”

Tidak diragukan lagi perjalanan dengan kereta uap pertama di Japara ini telah memberikan kesan bagi Kartini di masa hidupnya. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang harapan Kartini agar jalan-jalan modern dibangun dan menjangkau banyak kota.

Saat ini keberadaan trem tersebut memang sudah tidak ada, dan keberadaan rel kini telah tertutup oleh aspal di salah satu sudut Kecamatan Mayong, Japara.

%d blogger menyukai ini: