0 di keranjang

No products in the cart.

MANUSKRIP JAPARA (1898) : PEWARNAAN BATIK BIRU

Ada hal-hal spesifik yang harus diambil dalam proses pewarnaan biru, tahap pertama yang esensial dalam pembuatan batik yang diperuntukkan sebagai kain sogan. Proses ini hampir sepenuhnya dikerjakan perempuan. Di tempat manapun membatik itu populer, orang akan menemukan wong medel (pembuat warna biru). Proses mewarnai biru membutuhkan banyak air tiap hari dan untuk itu para perempuan yang terlibat dalam proses ini biasanya bertempat tinggal di tepi atau di dekat sungai. Di Solo dan Yogya, yang dalam hal membatik jauh berada di atas semua tempat lain, hanya dibutuhkan beberapa jam guna mengubah bahan dasar putih menjadi biru tua yang indah tanpa merusak karya batiknya sedikitpun. Namun di tempat-tempat selain kedua sentra ini, sudah untung jika seseorang berhasil mendapatkan kembali kain batiknya tanpa karya batiknya menjadi rusak total.

Perbedaan utamanya ada pada fakta bahwa di Solo, tempat asal batik, tong-tong untuk proses pewarnaan dibuat lebih baik dan di sini persiapan untuk cairan indigo (sebuah rahasia yang dipegang para perempuan Solo dan Yogya yang melakukan proses pewarnaan) berbeda dari tempat lain. Di sana tong-tong yang dipakai cukup besar sehingga kain batik dapat dibentangkan sepenuhnya, sementara di sini di Japara orang harus puas dengan tembikar setengah oval (jembangan) yang berdiameter tidak lebih dari 1 meter dan dalamnya kira-kira sama sehingga kain batik hanya bisa dimasukkan dengan dilipat beberapa kali. Akibatnya pastilah karya batiknya pecah yang diperparah saat penanganan kasar ketika dicuci.

Bengkel kecil pewarnaan biru biasanya terdiri dari tiga atau empat jembangan. Bengkel besar bisa memiliki sampai 24 jembangan. Jembangan-jembangan itu diletakkan di dalam, setengah terkubur di tanah agar tidak tumpah. Jembangan-jembangan itu diisi sampai sekitar dua jengkal tangan dari mulut dengan larutan indigo, kapur mentah dan air. Tiap hari larutan ini harus diaduk rata selama setengah jam dengan tongkat. Sewaktu-waktu tambahkan lebih banyak indigo dan air dan tiap tiga hari sekali tambahkan pisang batu matang, kulit nanas atau tebu. Jika tidak ditambahkan, cairan di jembangan akan berubah kehijauan, yang menandakan kemerosotan. Jika hal ini terjadi, jembangannya disebut ‘sakit’! Solusi menyembuhkan kondisi ini adalah dengan memasukkan beberapa kotak gula aren. Tidak boleh ada kain yang dicelupkan di jembangan sebelum ‘dipulihkan’. Jika tetap dilakukan, bukan hanya jembangannya yang rusak, tapi kain batiknya sendiri tidak akan terwarnai biru dengan baik.

Tiap sore semua kain batik yang telah diwarnai dikeluarkan dari jembangan dan dibawa ke sungai untuk dicuci. Kain-kain tersebut diambangkan tapi sambil ditahan dengan tangan kiri dan dipukul-pukul dengan keras menggunakan sebilah kayu yang dipegang tangan kanan. Setelah itu, kain-kain tersebut digantung untuk dijemur dan setelahnya sekali lagi dimasukkan ke dalam jembangan dan ditutup. Proses ini diulang-ulang sampai materialnya mencapai warna biru tua.

Jika para pekerja terampil dan indigo yang digunakan berkualitas baik, maka proses pewarnaan kain menjadi biru tidak berlangsung lama, tidak lebih daripada 10 hari. Jika tidak, dan ini sering terjadi, orang harus menunggu satu bulan guna mendapatkan kain batiknya kembali dari bengkel pewarna, dan biasanya warnanya tidak rata dan biru pucat.

Namun bagi bengkel pewarna yang efisien, bisnis ini sangat menguntungkan karena biayanya minim dan proses pewarnaan dibayar dengan baik. Bukan cuma batik, tapi juga berbagai barang lainnya diwarnai biru seperti baju/kabaya, benang dll.,

(diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia olehDaniel Frits Maurits Tangkilisandari terjemahan bahasa Inggris Dr. Joost Coté dalam Kartini : The Complete Writings 1898 – 1904. Bahasa asli : bahasa Belanda)

%d blogger menyukai ini: