0 di keranjang

No products in the cart.

PAMERAN NASIONAL KARYA PEREMPUAN

Bergenerasi-generasi seniman Belanda telah mendapatkan inspirasi seni dari Nusantara dan menuliskannya. Misalnya Chris Lebeau yang membuat sampul batik novel De stille kracht karya Louis Couperus (1901), sulaman di Museum Sulaman Nasional di Noordwolde, lukisan Marius Bauer atau Jan Toorop dan juga novel karya Jan Wolkers.

INSPIRASI BUKU BELANDA DENGAN BATIK NUSANTARA

Sampul batik untuk De stille kracht, Chris Lebeau

Walaupun orang Belanda telah mengenal batik sebelum akhir abad kesembilanbelas dan telah terkagum-kagum karenanya, baru di paviliun Hindia di Pameran Nasional Karya Perempuan pada tahun 1898 di Den Haag mereka melihat seorang pembatik. Sebuah teks dari Kartini menerangkan hal ini dengan panduan tehnis yang ia dasarkan pada pengalaman pribadi. Ia telah menyumbangkan bertumpuk-tumpuk catatan tentang seni kriya Jawa kepada pameran ini.

Direktur W.F. van Eeden dari Museum Kolonial di Haarlem berharap seni kriya Belanda dapat belajar dari industri batik Jawa. Untuk itu menyediakan laboratorium museumnya bagi eksperimen malam dan warna.

Dengan cepat batik menjadi bentuk terhormat dari seni terapan Belanda. Carel Lion Cachet, Gerrit Willem Dijsselhof (1866-1924), Chris Lebeau (1878-1945), Th. Nieuwenhuis (1866-1951) dan Johan Thorn Prikker (1868-1932) menerapkan tehnik ini pada desain mebel, seni interior dan desain grafis. Pelapis dinding batik karya Dijsselhof menjadi terkenal. Willy Dijsselhof-Keuchenius (1865-1960) juga menerapkan bordir padanya.

Perhatian terhadap batik dari Hindia-Belanda meningkat. Pada pameran yang berlangsung pad tanggal 9- 21 September 1898 ini, banyak batik terjual, antara lain kepada ratu Emma dan ratu Wilhelmina yang masing-masing lengser dan naik tahta pada tahun yan sama. Sukses ini menyebabkan didirikannya Oost & West pada tahun 1899 oleh Nellie van Zuylen-Tromp. Ia membela pelestarian tradisi kriya pribumi “murni” terhadap tekanan konsumen Eropa dan produksi pribumi yang berkwalitas rendah (Coté : 335).

Perkumpulan Oost en West memPromosikan pameran ini dan penjualan kriya pribumi Japara. Perkumpulan ini juga mengurus kesejahteraan mahasiswa Indonesia di Belanda. Sosrokartono, kakak Kartini dan salah satu mahasiswa Indonesia pertama di Belanda, adalah salah satu pendiri perkumpulan ini. Adik-adik Kartini terintegrasi dengan baik dalam jaringan ini, bukan cuma berkat kakak laki-laki mereka, tapi juga lewat keterlibatan langsung mereka dalam Pameran Nasional Karya Perempuan tahun 1898 dan selanjutnya, dari 1900 sampai paling awal 1910, dalam menyuplai pasar Eropa yang semakin besar akan kriya (suatu hal yang dipupuk Oost en West. Kartini mendorong Roekmini untuk mengembangkan bakat melukisnya agar bisa mengambil inisiatif dalam menghidupkan kembali seni kriya Jawa. Di masa saat para ningrat Jawa berlomba-lomba mengoleksi barang-barang Eropa, seperti piano dan lampu gantung (kandelir), untuk menaikkan status dan gengsi mereka, Kartini berjuang membuat para trendsetter Jawa menghargai budaya mereka sendiri (Taylor, 2010 : 160).
Penulis :Daniel F.M. Tangkilisan

Baca Juga artikel terkait :

Kartini dan Bahasa Belanda

Pusaka Seni Kriya kartini Japara

Tag:
%d blogger menyukai ini: