0 di keranjang

No products in the cart.

Pendopo Dalem Koesoemo Oetoyo Japara

Di Japara, Koesoemo Oetoyo juga menempati Kabupaten yang besar, biasa disebut Pendopo Dalem, Pendopo kabupaten itu, seperti dapat disaksikan hampir semua kota di Jawa, terletak di tengah kota. Di Japara, pendopo itu menghadap ke arah barat, yang di depannya terdapat alun – alun yang cukup luas. Diselatan alun- alun terdapat masjid besar yang terlihat anggun. Komposisi semacam itu manggambarkan filsafat Jawa, yang tumbuh sejak zaman Hindu, bahwa kekuasaan merupakan unsure duniawi dan rohani, mikrokosmos dan makrokosmos.

Dalam perspektif yang lain, perpaduan masjid dan pendopo dalem tadi juga menggambarkan menyatunya unsure ulama dan umara ( penguasa politik ). Dalam Bahasa Jawa, kesatuan dua unsur ini di sebut Pandito Ratu. Artinya, setiap Hukum, peraturan, dan Ketentuan pemerintah (ratu) harus memuat pula norma – norma agama (pandito).

Kombinasi masjid dan pendopo dalem itu makin lengkap dengan kehadiran alun –alun. Ketiganya menjadi symbol menyatunya kekuasaan raja sebagai kepala Pemerintahan, Panglima perang dan Kepala Agama, dengan Ulama, Rakyat, dan Para Prajurit. Oleh karena itu, gelar resmi raja – raja Mataram, baik Sultan maupun Susuhunan adalan Sampean Dalem Hingkang Sinuwun, Senopati Hing Ngalogo, Sayidin Panotogomo, Khalifatullah, yang berarti bahwa penguasa atau raja merupakan kepala permerintahan, panglima perang, dan juga kepala agama.

Pendopo Kabupaten Japara, tempat Bupati Koesoemo Oetoyo dan keluarganya tinggal, merupakan bangunan yang dibangun tahun 1750, pada masa pemerintahan Bupati Adipati Citrosumo III. Ia merupakan bupati Japara ke-23 yang memerintah antara tahun 1730 sampai 1760. Koesoemo Oetoyo sendiri tercatat sebagai bupati Japara yang ke-32, dari tahun 1905 sampai 1925. Bangunan itu sampai saat ini masih di pertahankan sesuai bentuk aslinya hingga abad ke-21, dan tetap menjadi rumah dinas bupati.

Bagian depan pendopo adalah ruang peringgitan, tempat menerima dan menjamu para tamu. Disebut peringgitan, dari kata ringgit atau wayang kulit,karena disitu biasanya bupati menggelar acara wayang kulit. Di belakangnya terdapat ruang kerja bupati yang di dekat dengan rana keputren yang berukiran tembus disebelah kiri, dan rana keputran yang berukiran tidak tembus disebelah kanan. Kedua rana ini pada zaman Kartini dipakai sebagai batas pingitan gadis – gadis bupati. Ruangan berikutnya adalah ruang keluarga disekitarnya terdapat empat kamar tidur, satu untuk bupati dengan garwa padmi dan lainya untuk putra- putrid yang belum dewasa.

Di belakang ruangan ini terdapat ruang keluarga dan kamar yang berderet,Ruangan berikutnya adalah serambi belakang pendopo. Ditempat ini Kartini merancang cita –citanya, yakni mendirikan sekolah untuk para gadis. Di bagian paling belakang terdapat ruangan memanjang sebagai dapur yang berhadapan dengan halaman luas yang di tubuhi berbagai tanaman. Dua pohon kantil kesukaan Kartini masih bertahan hingga menembus abad ke-21. Koesoemo Oetoyo tidak merubah fungsi titap tiap ruangan, dan tidak pernah pula mengganti bentuknya. Kamar yang dulu ditempati Kartini juga di tempati oleh putri – putri Koesoemo Oetoyo.

Pada saat Koesoemo Oetoyo memerintah Japara, pendopo itu dikelilingi halaman luas, dihiasi aneka macam tanaman bunga. Sepasang pisang kapas tumbuh tegak simetris disebelah kiri dan kanan pendopo. Di bagian lain terdapat pohon flamboyant,yang bunganya menjembul merah ditengah hijau dedaunan sekelilinganya. Ada pula pohon kelor dan pohon joko keset, dan sepasang pohon kantil, yang satu berbunga warna putih gading yang lain kuning, namun sama-sama menebarkan aroma harum. Mirip dengan kantil adalah kembang kenanga dengan bunganya yang hijau. Pada malam jum’at biasanya disediakan sesaji disudut pendopo, yang terdiri dari tujuh jenis kembang , termasuk kenanga dan kantil, serta kemenyan yang dibakar.

Selain bunga – bungaan, disekitar pendopo juga terdapat bermacam – macam pohon buah, seperti pala, mundu, kedondong, duku,manggismsawo manila,duwet,wuni,jeruk bali, jeruk keprok, mangga, pete, durianm nangka, sirkaya, sirsak. Ada juga pohon buah alpukat, jambu air, jambu mete, jambu kelutuk, dan belimbing. Banyaknya jenis pepohonan menyebabkan suasana luar pendopo terasa adem dan asri.

Disebelah utara pendopo terdapat tanah yang luas. Di tanah itu, Bupati Koesoemo Oetoyo membuat eksperimen berbagai macam tumbuhan yang bernilai ekonomi tinggi , seperti cokelat, kopi, vanili, rempah – rempah dan komoditas pertanian lainya yang juga untuk diekspor. Ia memang hobi dalam pertanian , dan seperti disebutkan terdahulu, ia banyak belajar dari K. Frederick Holle, yang memang memiliki ketrampilan khusus dibidang tekhnik budidaya.pertanian, yang masih belum dikuasai oleh para pribumi. Teknik budidaya baru pertanian ketika itu memang belum diajarakan ke kelompok pribumi . Oleh karena itu Kosoemo Oetoyo merupakan orang pertama yang diwilayah pesisir yang mengajarkan budidaya pertanian baru ini.

Bupati Koesoemo Oetoyo juga memiliki banyak ternak, mulai dari sapi perah, kambing, ayam, bahkan kuda. Sebagian dari kudanya . digunakan sebagai kuda tunggangan maupun kuda tarik. Kuda tunggangan dipakai sebagai kendaraan ketika ia turun ke desa –desa yang jauh dari jalan raya, atau daerah pegunungan. Kuda tarik dipakai bendi atau dokar untuk transportasi di dalam kota, yang jalan – jalanya relatif lebih halus dan rata.

Baca juga Artikel tentang Japara dan Koesoemo Oetoyo

%d blogger menyukai ini: