0 di keranjang

No products in the cart.

Sejarah Crimonjava Japara 1818

Carel Rudolph von Michalofski adalah seorang bangsawan Prusia (kini Jerman) berdarah Polandia yang dikirim oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai assistent-resident atau posthouder di Karimunjawa atau yang saat itu disebut Crimon Java selama 20 tahun (1818 – 1838). Tugas pertamanya adalah mengenyahkan bajak laut. Setelah itu bersama 1100 orang hukuman yang dibuang dari pulau Jawa, ia membangun sebuah “negeri” di Crimon Java Japara.

Bajak Laut Crimonjava Japara

Bajak laut adalah pekerjaan biasa di masa VOC dan setelahnya. Memang sebelum orang Eropa mengarungi laut Nusantara, bajak laut sudah ada. Namun sejak kedatangan orang Eropa, jumlahnya meningkat. Hal ini disebabkan kekerasan dan penekanan yang dilakukan orang Portugis, Spanyol dan Belanda. Kontrak-kontrak dagang yang diikat VOC dengan raja-raja Nusantara juga menjadi penyebabnya karena menimbulkan pemiskinan gara-gara kewajiban-kewajiban yang dibebankan VOC dan pemerintah Hindia-Belanda sendiri kepada rakyat.

Berabad-abad bajak laut bagaikan kutukan, bukan cuma bagi kapal-kapal pemerintah, kapal-kapal dagang Eropa dan kapal-kapal penangkap paus Amerika, tapi juga bagi penduduk Nusantara. Perdagangan, kriya dan bahkan pertanian menjadi hampir mustahil karena lalu-lintas laut dihambat. Desa-desa habis dijarah bajak laut sementara para raja-raja pribumi sibuk saling berperang guna menjual para tawanan mereka sebagai budak.

Pada 1810 kondisi ini tidak bisa dikendalikan lagi. Sepertinya tidak ada lagi kapal yang bisa melayari laut Nusantara dengan aman. Peraturan-peraturan pemerintah pun tidak mampu lagi berbuat banyak.

Saat pendudukan Inggris di Nusantara (1811 – 1815), pemerintah yang saat itu dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles mengambil tindakan untuk menghabiskan bajak laut. Saat itu Crimon Java telah lama terkenal sebagai sarang bajak laut. Namun pada tahun 1812, angkatan laut dengan 4 kapal fregat (pergata) menghancurkan dan menghalau semua armada bajak laut di sana.

Lalu di sana ditempatkan seorang pejabat yang mewakili pemerintah pusat di Batavia. Guna mencegah bajak laut kembali, ia diperlengkapi dengan beberapa lusin prajurit, sekitar 30 senapan, beberapa meriam kecil dan tiga kruisprauw. Sekitar 1000 narapidana yang dibuang dari Jawa juga dikirim untuk memopulasi kepulauan ini.

Sejarah Pelabuhan Karimunjawa Jepara

Sumber Foto KITLV | Peta Swaen

Pembuangan Narapidana

Bersama para narapidana yang dipekerjakan paksa itu, sang posthouder harus mendirikan sebuah pos atau pemukiman di batas hutan belantara yang hampir tak tertembus di sisi-sisi gunung Paserehan dan di tanjung berrawa-rawa di ujung selatan pulau Crimon Java. Sebuah proyek yang mengundang bencana. Di hutan belantara di sisi gunung Paserehan yang ia coba babat, penuh berkeriapan ular-ular berbisa. Sementara dalam rawa-rawa yang menutupi tanjung dipenuhi nyamuk malaria. Dalam waktu singkat ratusan pekerja paksa tewas digigit ular atau karena demam malaria. Mereka yang tidak tewas, menjadi sangat lemah karena malaria sehingga tidak mampu lagi bekerja. Residen Japara tetap mengirimkan narapidana, tapi hal ini tidak cukup untuk menyelesaikan proyek babat alas itu.

Pada tahun 1818, saat pemerintahan kembali ke tangan Belanda, seorang pejabat baru ditempatkan : seorang pemuda Prusia, masih segar baru tiba dari Eropa dan tidak memiliki sedikitpun pengalaman di negeri tropis. Beliaulah yang mengubah haluan pembangunan Crimon Java secara radikal.

Setibanya di Crimon Java, hal pertama yang Carel Rudolph von Michalofski lakukan adalah menghentikan penebangan hutan belantara dan memulai pengeringan rawa-rawa. Dengan bongkahan-bongkahan karang besar yang muncul saat air surut, ia menimbun tanah becek itu. Tanpa menyadari bahwa malaria itu berasal dari nyamuk (saat itu belum diketahui), ia telah membebaskan daerah itu dari malaria. Dengan begitu kampung utama Karimun bisa dibangun.

Membangun Crimon Java Japara

Siapa sebenarnya Carel Rudolph von Michalofski ini, yang memimpin para narapidana membangun Crimon Jawa?

Carel Rudolph dilahirkan di Berlin, Jerman pada tanggal 8 Februari 1792. Ayahnya berdarah Polandia mungkin lahir pada 1760 dan ibunya bernama Elisabeth von Flottow. Carel Rudolph tiba di Batavia pada tanggal 14 Juli 1817 dari Belanda dengan kapal Calypso. Walau memiliki pengalaman militer dalam angkatan perang Prusia, ia tiba di Batavia sebagai seorang pengangguran.

Alasannya meninggalkan karier kemiliteran tidak diketahui. Data tentang riwayat hidupnya semasa di Eropa pun luar biasa minim. Namun tentang kariernya di Hindia-Belanda dapat kita ketahui dari empat artikel yang pada tahun 1915 dipublikasikan oleh G.L. Gonggrijp, mantan residen Rembang saat itu (sebelumnya residen Japara). Gonggrijp menemukan sekitar 30 surat yang ditulis Von Michalofski kepada atasan langsungnya, residen Japara.

Pada tahun 1818, Von Michalofski telah berdiam di Japara. Saat itu ia sudah bekerja di kantor residen. Pada tanggal 15 Mei 1818 ia ditunjuk atasannya, Mr. J.A. Doornik, residen Japara, sebagai asisten-residen di Crimon Jawa. Ternyata Mr. Doornik bukan cuma atasannya, karena pada tahun 1822 Carel Rudolph menikahi Joanna Theodora van Lieveling, anak seorang budak Timor bernama Marcina, yang diasuh sebagai anak sendiri oleh sang residen.

Joanna Theodora berusia 21 tahun saat ia menikah dengan Carel Rudolph. Masa kecilnya pernah ia jalani di Batavia. Pada usia 4 tahun ia dibaptis di sebuah gereja Portugis yang mungkin sekarang menjadi GPIB Tugu di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Joanna Theodora mendampingi Carel Rudolph selama masa dinasnya di Karimunjawa dan memberinya 5 orang anak. Jika melihat pendekatan Von Michalofski yang tidak berdasarkan buku panduan dan tata cara barat terhadap para narapidana yang ia pimpin, tapi pendekatan yang berdasarkan pengenalan budaya lokal, mungkin Joanna Theodora juga berperan bukan cuma sebagai ibu rumah tangga, tapi juga berperan penting dalam memberi masukan dan nasehat kepada suaminya perihal pola pikir dan budaya Nusantara.

Von Michalofski bukan seorang pegawai pemerintah biasa. Ia tidak memiliki nyai, tapi menikah resmi dengan seorang pribumi. Ia tidak pulang ke Eropa saat ia sudah pensiun. Ia tidak mengikuti ujian kepegawaian. Ia juga tidak memakai kitab hukum pidana untuk menyelesaikan masalah yang timbul.

Kehidupan Crimon jawa

Cara Von Michalofski mengakhiri kelebihan laki-laki di Crimon Jawa juga sangat tidak konvensional. Karena jumlah perempuan sangat sedikit, sang posthouder secara teratur mendatangkan babu-babu dari Jawa untuk membantu rumah tangganya. Hanya dalam hitungan minggu, babu-babu muda itu dengan cepat dinikahi atau dipacari oleh para laki-laki narapidana yang jumlahnya sangat banyak itu.

Ketika ditemukan orang yang tidak mau menikah, Von Michalofski mengambil tindakan penanganan yang lebih langsung guna menyeimbangkan jumlah laki-laki dan perempuan. Ia mendirikan sebuah warung teh lengkap dengan pelayan-pelayan perempuan. Tidak usah saya sebutkan apa yang para pelayan ini lakukan ketika melayani para tamu. Eksperimen ini berhasil. Dengan cepat para pelayan ini menemukan pasangannya. Pada tahun 1827 hasil sensus penduduk menunjukkan 160 laki-laki dan 123 perempuan. Pada tahun 1885, Kementerian Dalam Negeri menulis tentang keturunan para narapidana dan para perempuan pelayan ini : “Pencurian jarang terjadi, kejahatan dalam bentuk apapun hampir tidak ada … orang-orang yang energik, layaknya orang Melayu yang suka melaut … sebuah masyarakat yang sejahtera dengan hanya sedikit penghirup candu.”

Para narapidana yang dibuang ke Crimon Jawa untuk menjalani hukuman kerja paksa itu mendapat makanan dan pakaian dari pemerintah. Mereka wajib bekerja 8 jam per hari jika sang asisten-residen atau pegawainya membutuhkannya. Sebagai imbalan, mereka mendapat dua gulden per bulan (perempuan mendapat 1 gulden), 40 pon beras dan dua pon garam. Dua kali setahun mereka mendapat sepotong kerudung biru, hem dan celana berbahan sama serta sarung kotak-kotak. Merekalah yang membuat pulau utama sejahtera dan teratur. Pada tahun 1826 Karimunjawa didiami hanya oleh orang bebas.

Perang Diponegoro (1825 – 1830) menggerogoti kas negara dan oleh karena itu harus dilakukan penghematan di berbagai bidang. Konsekuensinya bagi Crimon ada dua : sebagian besar serdadu yang mendampingi Von Michalofski memerangi bajak laut harus kembali ke Jawa dan para narapidana harus dibebaskan. Dengan begitu berakhirlah juga pengiriman gaji, makanan dan pakaian.

Pada 1 Desember 1825, Von Michalofski juga diskors dan harus meninggalkan posnya di Crimon Jawa karena kasnya mengalami defisit 2400 gulden. Namun beberapa minggu kemudian masalahnya telah selesai dan ia telah kembali bekerja.

Dengan dihentikannya pengiriman makanan, Von Michalofski dan rakyatnya harus memutar otak bagaimana mereka bisa bertahan hidup. Menangkap ikan adalah sumber mata pencaharian penting di kepaulauan ini, tapi para mantan orang buangan itu dulunya petani. Tanah di Crimon Jawa berbeda-beda tiap pulau dan sebelumnya belum ada tradisi tani.

Oleh karena itu, Von Michalofski mendatangkan berbagai macam bibit dari Jawa untuk diujicoba : pohon buah-buahan, tebu, kopi (dicoba seorang Ambon bernama Frederik Tomas), jarak, sirih, jati, kapas dan bahkan ulat sutra. Namun hampir semua eksperimen ini gagal. Penyebabnya bukan cuma jenis tanah dan angin laut, tapi terutama tikus tanah, landak dan serangga.

Setelah kegagalan yang bertubi-tubi, dicobalah budidaya kopra yang akhirnya membawa kesejahteraan bagi rakyat Karimunjawa. Diawali dengan penanaman 100 pohon kelapa di pulau Menjangan, kopra diproduksi dengan sangat baik di delapan pulau. Saking baiknya,hingga pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20 kopra menjadi komoditi dagang terpenting. Bahkan di penghujung dekade 1980-an, Jakarta Times melaporkan Karimunjawa memiliki perkebunan kopra yang sangat besar dan makmur.

Pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan pejabat struktural. Pada tahun 1828 diselenggarakanlah pemilihan kepala desa pertama. Empat orang yang terpilih untuk memimpin desa pertama kali adalah Lateppa, Waledjo, Intje Timor dan Alie.

Antara tahun 1829 dan 1838, anak tertua Von Michalofski, Carel Johan Rutger meninggal pada usia delapan tahun dan dimakamkan di Karimun. Pada tanggal 7 Agustus 1838, Von Michalofski menyelesaikan masa jabatannya dengan terhormat pada usia 46 tahun. Walaupun usianya masih jauh dari usia pensiun, ia tidak berusaha mengejar karier lebih jauh di pemerintahan. Tidak ada data tentang apa yang ia lakukan sampai tahun 1845. Pada 26 Agustus 1845, pada usia 53 tahun, ia mengajukan pensiun resmi. Tidak lama kemudian, bersama keluarganya (dengan 3 orang anak lelaki) ia berangkat ke pulau Bangka di Sumatra. Kemungkinan mereka tinggal di rumah Hendrik Adrian Ludwig, anak keduanya yang mendapat pekerjaan di sana. Anak perempuan Carel Rudolph, Hendrika Elisabeth Cornelia, meninggal saat masih kanak-kanak di sana pada 5 April 1854. Dua bulan kemudian Carel Rudolph von Michalofski, asisten-residen pertama Crimon Java, menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 62 tahun.

Hendrik Adrian Ludwig von Michalofski, anak kedua Carel Rudolph, kemudian menjabat asisten-residen di Karimunjawa pada tahun 1864 – 1869. Ia meninggal di sana pada tanggal 3 Februari 1869.

Residen Metman menulis pada tahun 1886 tentang desa utama Crimonjawa Japara yang ditinggalkan Von Michalofski : “Jalan-jalannya lebar dan ditanami pohon-pohon cemara tinggi dan halaman-halamannya, yang lumayan luas dan biasanya ditanami pohon buah-buahan, dibatasi oleh pagar-pagar yang dirawat baik. Tidak terlihat sama sekali rumah-rumah bobrok seperti di kalangan penduduk miskin di Jawa.”

Foto-kuno-Sejarah-kampung-wisata-Karimunjawa-Jepara---Museum-Rumah-kartini-Japara

Sumber utama :
Het Hoge Huis aan de Javazee : de geschiedenis van een zeeroverseiland (Rumah Tinggi di Laut Jawa : sejarah sebuah pulau bajak laut) karya Joop van den Berg, terbitan BZZTôH, ’s-Gravenhage, 1991, ISBN 90 6291 710 0

Translate : Daniel, FMT Tangkilisan

%d blogger menyukai ini: