0 di keranjang

No products in the cart.

Sejarah Crimonjawa 1986

Pada tanggal 5 Mei 1986, Joop van den Berg, penulis buku ini, mengunjungi Karimunjawa untuk melihat sejauh mana peninggalan Von Michalofski. Ia berlayar dengan kapal Larashati, sebuah kapal feri dari kayu yang dibuat di Rembang. Kapal itu berukuran sekitar 20 meter panjangnya dan 5 meter lebarnya. Bersamanya saat itu juga berangkat kira-kira 60 orang, 2 ekor sapi, banyak keranjang berisi ayam dan sayuran, serta masih banyak lagi. Di kapal Larashati, ia sempat menikmati nasi dan sayuran yang dihidangkan di atas daun pisang seharga Rp 100,- saja. Perjalanannya berlangsung selama 6 jam.

Pemandangan desa yang digambarkan residen Metman di tahun 1886 masih sama pada 1986. Namun saja sudah tidak ada lagi pohon cemara. Van den Berg mendengar bahwa penduduk setempat menebangnya setelah Belanda pergi karena pohon cemara dipercaya dihuni roh jahat.

Van den Berg menemukan mata air “di sebelah timur pulau, dekat sebuah teluk yang dalam” (Legon Lele?). Di sana terdapat air tawar, pohon buah-buahan dan pohon-pohon yang kayunya bagus untuk memerbaiki kapal.

Foto-Sejarah-Karimunjawa-Jepara---Museum-Rumah-kartini-Japara

Von Michalofski membuat taman bunga yang sangat indah di benteng yang berada di selatan pulau. Pada tahun 1885 benteng itu telah runtuh sepenuhnya. Pada tahun 1986 di sana telah berdiri sebuah pabrik es modern guna mengawetkan ikan. Taman bunganya juga sudah hilang, digantikan alun-alun.

Rumah dinas Von Michalofski, yang disebut het hoge huis atau rumah tinggi, masih berdiri tegak. Disebut tinggi karena ukuran pintunya tinggi.

Crimonjava Abad 20

Sebelum Perang Dunia II, Crimonjava sudah dipimpin oleh orang Indonesia. Menurut pak Alimun, yang diangkat pemerintah pendudukan Jepang sebagai pimpinan saat itu, Crimonjava hanya dikunjungi oleh orang Jepang dengan misi ekonomi. Tidak dijelaskan lebih jauh tentang misi tersebut. Namun saat perang, kapal-kapal selam Amerika Serikat pernah menepi di teluk-teluk terpencil untuk mencari air tawar, daging dan sayuran.

Von Michalofski pernah melaporkan tentang sebuah mata air yang terus-menerus mengeluarkan air sepanjang tahun dan dijadikan tempat mandi para perempuan. Namun di tahun 1986 mata air itu sudah tidak ada setelah dijadikan tempat mandi umum yang dikelilingi tembok. Di belakangnya terdapat makam yang bisa jadi milik asisten-residen penerus Von Michalofski dan Hendrik Adrian Ludwig.

Pada tahun 1986 di setiap rumah sudah ada pompa air yang diletakkan di samping rumah. Tiap sore antara jam 16.00 dan 17.00 desa ini ramai dengan suara anak-anak mandi dan gebyuran air.

Van den Berg juga mendatangi beberapa pulau dengan menaiki kapal solar yang saat itu disebut kapal stoom. Ia mengunjungi pulau Parang yang di abad ke-19 terkenal sebagai sarang bajak laut. Di tahun 1986, Van den Berg melaporkan bahwa pulau itu makmur dengan penduduk 2000 orang dengan mata pencaharian utama nelayan dan bertani. Padang rumput di sana bagus untuk sapi dan kambing.

Di pulau Nyamuk pada tahun 1986 sudah berdiri sebuah mercu suar. Kampung di sana juga seperti di kampung utama Crimonjva: jalan-jalannya lurus, rumah-rumahnya besar dengan halaman luas.

Di ujung selatan pulau Genting telah ditemukan marmer hitam. Rencananya beberapa tahun kemudian marmer hitam ini akan ditambang oleh sebuah joint-venture Perancis-Indonesia.

Karimunjawa 1986

Joop van den Berg melaporkan Karimunjawa berpenduduk 7000 orang, 7000 hektar tanah subur dan 145 km2 laut penuh ikan. Penduduknya yang makmur ini telah memulai mata pencaharian baru : budidaya cengkeh. Saat itu sudah ditanam 23.000 pohon cengkeh.

Setiap jam 18.00 mercu suar di pulau Karimunjawa dan Nyamuk menyala menerangi lautan di sekitarnya.

Masjid besar putih titik pusat desa utama waktu itu, bukan kantor pemerintah dan juga bukan pos militer yang menyimbolkan kekuasaan pemerintah pusat nun jauh di Jakarta sana. Rumah tinggi, rumah dinas asisten-residen pertama Carel Rudolph von Michalofski 200 tahun yang lalu dan para penerusnya sudah ditinggalkan dan bobrok. Bahkan nisan dua anaknya yang meninggal di usia kanak-kanak tidak ada.

Ketika pabrik pengolahan ikan dibangun di atas reruntuhan benteng, warga Karimunjawa berkata : “Angin kemajuan tidak bisa ditahan, tapi bagai batang padi, kita bisa sangat bengkok tapi tidak patah.”

Saat itu pariwisata di Karimunjawa baru angan-angan pemerintah saja. Joop van den Berg mengira para petinggi, nelayan dan petani di Karimunjawa bahkan tidak mengangan-angankannya.

Disarikan oleh Daniel Frits Maurits Tangkilisan dari buku Het Hoge Huis aan de Javazee : de geschiedenis van een zeeroverseiland (Rumah Tinggi di Laut Jawa : sejarah sebuah pulau bajak laut) karya Joop van den Berg, terbitan BZZTôH, ’s-Gravenhage, 1991, ISBN 90 6291 710 0

%d blogger menyukai ini: