0 di keranjang

No products in the cart.

PUSAKA SENI KRIYA KARTINI JAPARA

Kartini, lahir pada 21 april 1878, adalah seorang putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Japara dan garwo ampilnya, Ngasirah. Kartini terkenal sebagai pionir hak-hak perempuan Jawa dan pejuang awal emansipasi perempuan di Indonesia. Status itu beliau dapatkan berkat topik-topik yang ia angkat dalam surat-suratnya kepada beberapa orang Belanda yang pada tahun 1911 mencapai khalayak ramai lewat penerbitan Door duisternis tot licht, sebuah buku berisi surat-suratnya yang telah dipilih dan diedit J.H.Abendanon.

Namun tulisan Kartini tidak hanya terdiri dari surat-surat pribadi belaka, tetapi juga mencakup surat resmi kepada ratu Belanda, memo kepada pemerintah, cerita-cerita pendek dan artikel-artikel ilmiah. Selain mencekoki surat-surat pribadinya dengan pemikiran-pemikiran yang jauh melebihi zamannya, ia juga memromosikan seni kriya Japara dan bertransaksi bisnis kerajinan.

Dokumen-dokumen ini penting karena berasal dari masa signifikan dalam sejarah Indonesia. Dokumen-dokumen ini juga unik karena ditulis oleh seorang perempuan pada saat tulisan luas dan mendetil dari seorang perempuan masih langka, bahkan di dunia Barat. Kartini mengritisi penjajahan saat keberadaan tulisan dengan rasa nasionalis masih sangat sedikit.

Setelah banyak membaca tulisan-tulisan feminis Belanda, Kartini dan adik-adiknya mengambil bagian dalam Pameran Nasional Karya Perempuan. Mereka beranggapan bahwa demonstrasi karya-karya perempuan Jawa akan diakui dan dihormati oleh pergerakan feminis Belanda. Namun ternyata para feminis Belanda belum tertarik kepada aspirasi perempuan Jawa. Hal ini mendorongnya untuk menjelaskan Jawa dan budayanya kepada para penjajah. Jadi dalam tulisan ini, saya tidak ingin lebih jauh mengupas emansipasi atau hak-hak perempuan karena Kartini lebih besar perjuangannya. Lebih banyak yang bisa dikupas dari Kartini selain masalah emansipasi. Dalam surat-suratnya terlihat kepeduliannya terhadap masalah-masalah masyarakat, tidak hanya masalah emansipasi. Beliau melihat perjuangan perempuan akan persamaan hak, kebebasan dan kemandirian sebagai bagian dari pergerakan masyarakat yang lebih besar (Nieuwenhuys, 1978 : 317).

Jadi saya ingin menuturkan tentang bagaimana ia berjuang demi industri kreatif rakyatnya, bagaimana ia menggunakan kemampuan berbahasa Belanda nya dalam usahanya itu dan bagaimana dengan begitu seni kriya Jawa terkenal di dunia.
Penulis :Daniel F.M. Tangkilisan

Baca Juga artikel terkait :
Kartini dan Bahasa Belanda

PAMERAN NASIONAL KARYA PEREMPUAN

%d blogger menyukai ini: