0 di keranjang

No products in the cart.

Seni Ukir Japara Jaman Koesoemo Oetoyo

Isi Perabot – perabotan di pendopo Japara hampir seluruhnya dari kayu jati berukir dan beberapa dengan motif eropa yang saat itu berkembang pada zaman Artnuevo. Sejak dulu, Japara dikenal sebagai kota ukir. Dimana – mana , di berbagai sudut kota , ada usaha ukir lengkap dengan bengkelnya. Di zaman Koesoemo Oetoyo menjabat Bupati, hasil ukiran Japara sudah terkenal dimana – mana. Dari Japara, berbagai macam mebel sudah dikirim keluar daerah, di saentero Hindia Belanda, bahkan sudah di ekspor ke luar negeri.

Kepandaian mengukir orang Japara itu diyakini berkembang di zaman Ratu Kalinyamatan. Ketika itu Sejak dahulu, disekitar Japara juga sudah berdiri galangan kapal yang memiliki produk yang khas, yaitu kapal – kapal dengan banyak hiasan ukir di bagian interior maupun eksteriornya. Motif khas Japara adalah detail dan rumit juga halus dengan kombinasi garis –garis tegap.. ini merupakan warisan khas ukiran Japara, yang membuatnya berbeda dengan ukiran bali. Motif ukiran bali semula di khususkan untuk rumah , perabot, puri, dan kuil / pura dengan mengutamakan motif lembut , detail, halus dan garis – garis khas barang rumah tangga.

Ketika berbicara tentang Kota Japara, maka perhatian pasti tertuju kepada seseorang pahlawan perempuan yang berani, yaitu Raden Ajeng Kartini yang selain menaruh kepedulian kepada pendidikan kaum perempuan ternyata juga sangat memperhatikan seni ukir. Ia tidak saja mengembangkan ukiran sebagai seni, namun juga mendorongnya menjadi industri kerajinan rakyat. Tujuannya , untuk mengembangkan perekonomian rakyat. Kartini secara periodic mengundang para pengukir dari desa Belakang Gunung, untuk dikumpulkan di belakang pendopo, dan diminta menggarap desain – desain yang disukai passer, seperti asbak, tempat perhiasan , tempat barang – barang jahitan, meja – meja kecil berukiran , dan sebagainya. Kartini ternyata juga mengembangkan motif ukir lunglungan bunga. Hasil industri kecil ini lalu dipasarkan di berbagai kota, seperti Semarang dan Batavia.

Pada masa Koesoemo Oetoyo memerintah Japara, ia melanjutkan upaya – upaya Kartini , putri dari Bupari pendahulunya R.M.A.A. Sosroningrat. Ia mendorong para pengrajin untuk terus mengembangkan seni ukir dan mengembangkan gildanya , organisasi yang khusus didirikannya bagi para pengukir. Ia mewajibkan sekolah pertukangan di Japara untuk memasukkan teknik mengukir sebagai salah satu mata pelajaran sekolah. Usaha usaha itu, pada tahun 1929, dibakukan menjadi sekolah teknik yang bernama Openbare Ambachtsschool, khusus jurusan mebel ukir.

Baca Juga Artikel tentang :
Pendopo dalem Koesomo Oetoyo
Japara dan Koesoemo Oetoyo

%d blogger menyukai ini: