0 di keranjang

No products in the cart.

Cerita Sumur Dukuh Duplak

Japara merupakan daerah yang memiliki banyak sekali objek wisata alam. Nah, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah wisata alam Desa Tempur di Kecamatan Keling Kabupaten Japara. Masyarakat banyak menyebut Desa Tempur ini dengan sebutan Desa Tersembunyi. Karena letak desa tersebut yang memang dikelilingi oleh gunung di sebelah timur, selatan, utara, dan barat. Bisa kita bayangkan bagaimana suasana desa ini, alami dan masih minim pencemaran.

Desa tempur terletak di perbatasan antara Japara dengan Pati dan Kudus. Lebih tepatnya sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kudus, sebelah utara berbatasan dengan Desa Kunir, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sumanding dan Dudakawu, serta sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Perjalanan menuju desa tersebut melewati jalan yang naik turun khas seperti daerah pegunungan.

Desa yang berada di lereng Gunung Muria ini merupakan daerah tertinggi yang ada di Japara. Banyak sekali tempat yang bersejarah di tempat ini. Seperti peninggalan situs megalitikum di Gunung Muria yang bernama Candi Angin. Masyarakat percaya bahwa candi tersebut awalnya merupakan tempat untuk peribadatan, letaknya yang tinggi hingga roboh terkena hembusan angin menyebabkan tempat ini di sebut Candi Angin.

wisata gunung muria Sumur tempur Duplak Japara

Tetapi dalam kesempatan kali ini kita akan lebih membahas mengenai Sumur Batu di Dukuh Duplak. Dukuh ini terletak sekitar tiga kilometer di atas Desa Tempur. Sumur ini dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Mereka merintis lokasi Sumur Batu Duplak tersebut menadi kawasan ekowisata.

Banyak sekali mitos dan cerita dari warga sekitar yang menarik tentang Sumur ini. Warga sekitar percaya bahwa air Sumur Batu tersebut dapat membuat perempuan yang mandi di sana menjadi awet muda. Mereka meyakini Sumur Batu Duplak tersebut adalah sebuah lumpang atau alat penumbuk peninggalan dari Dewi Nawangwulan. Dalam legenda Joko Tarub, Dewi Nawangwulan merupakan bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali karena selendangnya dicuri.

Bentuk Sumur Batu Duplak ini seperti lumpang atau batu dengan lubang di tengahnya. Dan menurut warga sekitar, sumur yang dikelilingi tanaman kopi ini jarang mengalami kekeringan. Nama Dukuh Duplak sendiri juga berkaitan dengan sumur ini. Bentuk sumur yang seperti lumpang atau alat untuk menumbuk, masyarakat Jawa biasa menyebutnya dengan ndeplok. Dan dukuh Duplak sendiri berasal dari istilah sumur tersebut.

Menurut Mas Ali yang merupakan pemuda setempat, situs peninggalan seperti Sumur Batu Duplak ini harus dilestarikan. Ia juga berpendapat bahwa mitos-mitos yang muncul di kalangan warga sekitar mengenai sumur tersebut adalah sesuatu yang wajar. Bahkan hal tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik wisatawan luar. Dan hal ini sangat baik untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata di Desa Tempur.

%d blogger menyukai ini: