Batik Kartini– Batik merupakan suatu ungkapan rasa yang mempunyai nilai artistik dan membagikan kepuasan batin. Tetapi setimpal dengan bergulirnya waktu dalam tempaan suasana serta keadaan, batik jadi salah satu komoditas perdagangan yang diminati sampai saat ini. Pada umumnya,  batik dikenal sebagai sehelai kain yang bercorak atau bermotif tradisional dan merupakan busana khas Indonesia.

Permunculan istilah batik ditemukan dari laporan seorang Konsul Hindia Belanda bernama Chastelin pada tahun 1641. Kemudian muncul beberapa pendapat antaralain, menurut buku “De Batik Kunst” batik telah mempengaruhi daerah Jawa sejak tahun 400 Masehi, media seni rupa ini dibawa oleh pedagang Kalingga, dari Pantai Koromandel Hindia.

Pengaruh ini berlangsung sampai zaman kerajaan Daha di Kediri kurang lebih 1100- 1222 Masehi. Pada tahun 1980 dalam novel “The World of Indonesia Tekstil” mengatakan; kata“ tik” pada kata batik berasal dari bahasa Melayu berarti titik- titik ataupun tetes- tetes mempunyai makna yang sama dengan menulis ataupun menggambar.

Popularitas Batik kembali naik daun semenjak diperkenalkan Kartini saat pameran di Belanda. Pada pameran di Den Hagg Belanda tahun 1898 itu batik Kartini berhasil mencuri perhatian.  Banyak batik yang terjual pada pameran yang berlangsung pada tanggal 9-21 September itu. Salah satu yang menjadi pembeli adalah Ratu Emma dan Ratu Wilhelmina. Alhasil, membuat dampak yang begitu signifikan terhadap seni kriya batik. Perhatian pemerintahan Hindia Belanda meningkat sekaligus dengan cepat batik menjadi bentuk terhormat dari seni terapan Belanda.
Sejarah Karya seni batik Kartini Kardinah Roekmini oleh Rumah Kartini Japara

Beberapa data yang sudah kami kumpulkan untuk pembuatan reproduksi batik Kartini dibutuhkan waktu yang cukup lama. dDiperlukan penelitian yang cukup mendalam, pasalnya data yang berupa foto Kartini memakai batik berwarna hitam putih. Butuh beberapa pendekatan untuk melihat dan meneliti foto tersebut, supaya bisa diketahui dengan jelas motif dari batik yang dikenakan oleh Kartini an adik-adiknya tersebut.

Kerajinan-Seni-ukir-dan-batik-Kartini-Japara-reproduksi-Komunitas-Rumah-kartini-Indonesia

 

Beberapa pendekatannya antara lain adalah dengan mengumpulkan data-data referensi motif tentang batik keraton juga batik pesisiran di awal abad 19 di pulau Jawa saat itu. Selain itu Rumah Kartini juga mendatangi para ahli dan para peneliti lain untuk berdiskusi berkaitan dengan motif batik yang ada di foto tersebut untuk kemudian dijadikan sebuah pola.

Kerajinan-Seni-batik-Kartini-Japara-reproduksi-Komunitas-Rumah-kartini-Japara-Indonesia

Dalam proses pembuatan pola dari beberapa batik yang direpro, ada satu motif batik yang berjudul “Nogo Sajodo”. Motif batik ini tergolong unik, pasalnya, biasanya pattern motif batik biasanya mengarah pada suatu tujuan, tapi motif batik “Nogo Sajodo” ini berbeda, pattrennya tidak mengarah pada satu tujuan, tetapi zig-zag.

Setelah dipola dengan baik, barulah memulai proses membatik dengan menggunakan canthing yang memang alat khsusus untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis. Selain chanting, bahan membatik yang tak boleh dilupakan adalah “malam” atau yang biasanya akrab disebut lilin batik. Fungsi malam dalam proses pengerjaan batik adalah untuk menutupi bagian tertentu agar tidak terkena pewarna.

Proses kerja malam dan pewarna dalam membatik pada prinsipnya memanfaatkan dua sifat bahan yang saling bertolak belakang sebagaimana minyak dan air, lilin mengandung minyak sedangkan pewarna mengandung air. Bagian-bagian tertentu yang diberi lilin secara otomatis tidak bisa ditembus oleh pewarna.

Dalam proses wedelan atau pewaranaan batik Kartini, menggunakan pewarna yang alami, sebagaimana yang sering kita jumpai di pulau Jawa khususnya. Beberapa di antaranya menggunakan warna indigovera yang merupakan tumbuhan penghasil warna biru dalam motif batik Nogo Sajodo dan Ayam puger. Selain itu, juga menggunakan pewarna alami Tingi (Ceriops tagal) untuk menghasilkan merah maroon, menggunakan ekstrak kayu Tegeran untuk warna kuning cerah dan juga menggunakan pewarna alami Jambal untuk mendapatkan warna abu-abu.

Dalam proses pewarnaan tersebut ada yang namanya mbironi, dalam artian menutup warna biru dengan isen pola berupa cecek atau titik dengan malam. Ada juga yang namanya proses nyagon, yakni pencelupan kain untuk memberi warna coklat pada bagian-bagian yang tidak ditutup malam.

Setelah warna yang diinginkan sudah dicapai, langkah selanjutnya adalah proses fiksasi dengan cara dicelupkan pada larutan Fiksasi, seperti halnya tawas atau gamping. Tawas akan memberikan warna sesuai dengan aslinya, sementara gamping akan memberikan warna lebih tua dari aslinya.

Di proses pembuatan batik Kartini yang terakhir adalah nglorod. Tahap nglorod ini adalah tahap merebus kain yang sudah berubah warnanya dengan menggunakan air panas. Adapun tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin atau malam, sehingg motif yang sudah dibuat pada kain akan terlihat dengan jelas dan sempurna.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan batik Kartini ini menggunakan kain jenis Primisima. Jenis kain cotton yang mempunyai kulitas terbaik dengan serat benang rapat halus dan tebal.

Batik Kartini repro ini dibuat oleh Nur Rohmad S, Sn seorang prorfesional di bidang seni membatik yang juga merupakan bagian dari Rumah Kartini. Adapun foto diambil oleh Bulb Photography.

Proses :
Research, Membuat Pola, Memola, Membatik, Wedelan, Plorodan, Mbironi atau Nyogan.

Bahan & Alat :
Kain Primisima, Canting, Malam, Indigovera, Tegeran, Tingi, Jambal,Viksasi, Tawas, Kapur/gamping.

Artist :
Nur Rohmad S,Sn

Photographer :
Bulb Photography.

Baca Juga :

Pameran Nasional Karya Perempuan

Dampak Perjuangan Kartinin Bagi Japara

Dibalik Reproduksi Gong Senen Japara