O,  ikutilah  garis-garis  yang  mengalir  indah  itu,  kelokan-kelokan  yang  anggun, lekukan-lekukan halus  dedaunan. Garis-garis  mimpi itu mengalir tenang tanpa hambatan berarti, di sini berujung menjadi ikal yang elok, di sana menjadi lambaian anggun bagaikan gerakan tangan lembut seorang wanita yang menawan!

Keseluruhannya menekankan keanggunan yang lembut, yang dapat ditemukan pada bunga, junjungan setengah dewa penduduk pribumi : aristokrasinya! Tidakkah kau rasakan apa yang pastinya merasuki sang seniman ketika ia memberikan bentuk kepada mimpi indah jiwanya yang halus itu, yang sekarang terpahat di kayu, selagi matamu dan jiwamu keduanya menyerap keindahan ciptaannya?

Karya seni mulia! Kayu jati berwarna cerah dipahat secara à jour, di atasnya berdiri setengah relief dua wayang1, di bawah kakinya menggeliat ular-ular, dalam suasana alam yang kaya akan bunga dan dahan berdedaunan tempat burung-burung kecil berpesta. Semua ini dibingkai kayu sonokeling. Ukirannya mengalir ke bingkainya membentuk dua ular memanjat dengan moncong menganga dan lidah bercabang terjulur, seakan-akan siap mencaplok tiap tangan yang hendak menyentuh karya indah yang memahkotai pelindung

perapian yang berdiri di atas dua kaki berukiran rapi dari kayu sono.

Ada semacam lapisan yang memantulkan sinar meliputi karya ukir itu, seakan-akan dipoles. Dan oh! Alangkah sederhana caranya. Lapisan itu dihasilkan hanya dengan menyapukan kuas kaku dari inju yang berasal dari pohon aren.

Oh,  ya  ampun! Dari  mana  engkau  dapatkan  keindahan  ajaib  ini?  Tanya  seorang pengagum yang terpesona dengan antusias.

Sang lelaki sederhana,  sambil duduk rendah hati di tanah, dengan penuh hormat mengangkat sedikit matanya yang menunduk penuh kerendahan dan berkata :”Dari hati saya, bendoro!”

Tidak, tidak, permata itu tidak dijual. Sudah ada yang punya. Bapak J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Agama dan Kriya di Batavia adalah pemilik pelindung perapian yang elok ini.

Kalau begitu, barang lainnya saja dari tumpukan besar ini : bingkai lukisan elok, standar foto, kotak foto, kotak asesoris pria, kotak cerutu, kotak perhiasan, kotak kerja dan kotak sarung tangan. Elok, bukan, ibu-ibu, kotak-kotak kecil dari dua jenis kayu, dasarnya dari sonokeling dengan tutup dari ambalo terang bertepi kayu sono. Indahnya ukiran yang menghiasinya! Bagian atas tutup kotak kerja diukir dua wayang dikelilingi dedaunan dan bunga-bungaan, sementara bagian dalamnya dua burung dikelilingi dedaunan dan dahan- dahan. Di sisi depan terdapat hiasan dahan-dahan berdedaunan dan bunga-bunga dengan dua ular yang saling melilit. Di kedua sisi samping diukir motif yang sama tetapi dengan ayam

hutan, bukan ular. Di sisi belakang motif yang sama dengan kijang.

1 Kedua wayang itu adalah : di kanan Gatot Koco, di kiri Ontoseno, dua saudara putra Bimo, salah satu

Pendowo (yang nomor dua), dari lakon “Sembodro Larung”.

Rapi juga kotak-kotak kecil sewarna dari kayu jati yang terang itu, seperti kotak foto berbentuk buku. Tutupnya dihiasi dahan-dahan berdaun dan dua wayang, pada punggungnya dahan-dahan berdaun.

Manis kotak segi delapan berwarna dua yang berdiri pada kaki-kaki mungil. Cocok ditaruh di meja rias untuk menyimpan bedak dan kuas. Tidakkah kau merasa kotak-kotak lonjong itu manis sekali? Tutupnya memiliki bukaan. Kotak-kotak itu untuk ditaruh di meja teh, guna menyimpan sendok-sendokmu.

Tidakkah enak dilihat nampan dari kayu jati terang itu, dengan ukiran figur-figur dan tepian dari sonokeling? Dan apa pendapatmu akan hiasan meja tulis itu, buku tulis, kotak perangko dan pisau pembuka surat? Engkau hendak langsung mengambilnya.

Maaf sekali, ibu-ibu, harus mengecewakan anda. Tidak satupun dari barang-barang yang dipajang di sini boleh dijual karena …  semua sudah t e r j u a l!

Oh,  kami  mohon  maaf  yang  sedalam-dalamnya  karena  para  seniman  yang  anda kagumi itu tidak dapat menawarkan cinderamata untuk anda beli saat kunjungan anda yang baik ke atelir mereka.

Penyebabnya  sangat  menyedihkan  :  mereka  tidak  punya  modal.  Oleh  karena  itu mereka tidak dapat menyimpan karya yang tidak dipesan. Dalam rentang waktu antara pengerjaan dan menunggu pembeli mereka juga harus bertahan hidup, bukan? Mereka manusia biasa seperti kita, mereka belum belajar hidup hanya dari udara.

Kondisi mengenaskan itu akan segera berakhir! Hari-baik baik telah datang bagi para seniman kita, mereka akan menghadapi masa depan cerah!

Oost en West telah mengurus mereka. Sebagai langkah awal, telah memberi mereka pekerjaan selama beberapa bulan. Semua barang elok itu dikerjakan untuk dan dibiayai oleh Perkumpulan itu untuk pameran Sinterklaas-nya yang akan datang di Batavia.

Ini hanyalah awal!

Kami haturkan hormat dan terima kasih kami, Perkumpulan Oost en West, untuk ikhtiarmu yang mulia, ketekunanmu, pengabdianmu dan semangatmu! Semoga sebagai imbalan usahamu yang indah dan tak kenal lelah, segera tiba waktunya, demi kemaslahatan negeri  ini,  seluruh  dunia  beradab  memberikan  perhatian  kepada  ciptaan-ciptaan  seni Insulinde, negeri yang kaya!

Japara, Japara yang kecil, seorang pesimis telah bernubuat bahwa seperempat abad lagi engkau tidak akan  lebih daripada sebuah kandang babi! Takutkah engkau nubuatan suram itu akan terjadi? Kami sangat amat yakin engkau akan membuktikannya salah dengan telak!

Ketenaran indahnya seni anak-anakmu bahkan telah mencapai istana Raja Bawahan. Di  sana  sebuah  pelindung  perapian  nan  elok  dari  kayu  sono  menghias  ruang  rias  istri Gubernur  Jenderal.  Di  tempat  kerja para pengukir  kayu  sebuah  pelindung perapian  lagi sedang dikerjakan untuk Yang Mulia.

Sudut kecil yang penuh kebahagiaan dan masih murni di muka bumi ini, engkau yang menghasilkan karya seni nan surgawi, seperti dinding di Pendopo Kabupaten Japara, yang kami tidak berani gambarkan karena kami sangat sadar akan ketidakmampuan pena kami menggambarkan keindahannya, sehingga kami hanya mampu melampirkan fotonya saja. Engkau tidak ditakdirkan untuk jatuh, namun seperti di masa lalu, engkau dimaksudkan untuk menjadi penyandang nama tenar dan terhormat!