Tidak nyaman jalannya, ya, di tempat terbuka tanpa pepohonan sementara matahari bersinar terik membakar tengkukmu.

Ayolah, nona muda, janganlah bersedih, sedikit sinar matahari tidak akan membuat kulitmu seperti kulit pribumi. Dan untuk apa payung genit itu yang kau pegang di tanganmu? Jangan berhenti, perjalanan ini akan segera berakhir dan yang menunggu kita di sana akan membuatmu lupa akan rona merah di pipimu yang dikecup sang mentari nakal.

Di sinilah sungai yang membatasi desa itu. Sebuah perahu menunggumu. Naiklah, para pengunjung. Di seberang sana telah menunggu keajaiban, ketenaran Japara, tempat yang usang!

Garda kehormatan yang terdiri dari bocah-bocah setengah telanjang dan telanjang bulat berdiri di seberang siap menyambut anda. Brr, jorok sekali mereka; apakah mereka baru mandi lumpur?

Bocah-bocah jorok itu, para pengunjung, adalah seniman-seniman masa depan! Lihatlah, tanah menunjukkan bukti bakat mereka. Apa pendapatmu tentang burung dan naga yang digambar di tanah dengan bantuan dahan atau batu tajam? Atau tentang kisah wayang yang digambar dengan arang di tembok kayu gardu jaga?

Inilah  karya  jari-jari  dekil  monyet-monyet  kecil  itu,  yang  memandangmu,  orang asing, dengan mulut melongo dan mata terbelalak.

Dentingan ganden yang ringan dan dering logam terdengar riang. Inilah sambutan selamat datang dari para pengukir kayu di desa mereka!

Masuklah ke rumah bambu asal sambutan unik yang memanggilmu itu! Hati-hati, menunduklah, pintunya rendah.

Engkau  menatapku  seakan  berkata  :  “Kau  memermainkanku!  Apakah  gubuk  ini atelir? Apakah ini tempat benda-benda cantik itu dibuat yang kau puji sebegitu tinggi dan hendak kau perlihatkan padaku? Apakah itu para seniman, yang kau kagumi, orang-orang setengah telanjang yang duduk di tanah itu? Ck! Ck! Jangan  terlalu cepat menghakimi! Lihatlah sekelilingmu dan lihatlah baik-baik. Benar, susah menyesuaikan mata dari sinar terang-benderang di luar ke suasana remang-remang di dalam. Biasakanlah penglihatanmu, lihatlah sekeliling, perhatikan dan barulah menilai!

Sudah kami duga, engkau akan berseru terkejut : “Bagaimana mungkin!”

Ya, bagaimana mungkin? – Kami juga bertanya-tanya – Bagaimana mungkin di sudut kecil ini, yang seakan-akan terpencil dan terasingkan dari dunia luas, di lingkungan tanpa bunyi  jam,  yang  pada  malam  hari  suara  babi  hutan  sering  membangunkan  orang  dari tidurnya, di pojok kecil dengan penerangan sekadarnya ini, benda-benda mulia seperti itu

dapat dipikirkan dan diciptakan oleh orang-orang yang sangat sederhana, yang hampir tak berbusana, dan tidak pernah, paling tidak sebagian besar, meninggalkan tanah kelahirannya!

Di sini kita berdiri di hadapan sebuah misteri Ilahi yang sangat mulia! Marilah kita melihat dengan seksama sekeliling kita terlebih dahulu, sebelum kita mulai mengagumi dan menikmati! Kenikmatan kita akan semakin besar, jika kita melihat kontras yang mengejutkan antara lingkungan ini, para seniman dan ciptaan-ciptaan mereka.

Kita berada di ruangan dengan penerangan buruk seluas maksimal 16 m² dengan 3 pintu. Di kedua sisinya berdiri papan kayu sempit, panjang dan rendah yang dipakai sebagai meja kerja oleh para pengukir kayu. Sebagian besar masih remaja, pemuda, beberapa sudah dewasa dan matang dan beberapa sudah lanjut usia. Mereka duduk berpasangan di meja kerja di atas tanah tanpa alas, kaki mereka yang berlunjur di bawah meja bercelana hanya selutut yang mungkin dulu pernah berwarna putih. Itu sebelum kita masuk. Sekarang mereka semua duduk bersila, tanda hormat terhadap para pengunjung. Itulah cara duduk sopan orang Jawa.

Di atas meja di samping setiap pengukir terletak setumpukan alat tatah dengan berbagai ukuran, dari yang berukuran biasa sampai yang lebih kecil daripada poros pena, batang-batang panjang yang datar dan yang bundar, ujungnya dipertajam menjadi datar atau setengah bundar. Dalam setiap tumpukan ada 40 alat. Di hadapan sang seniman-pekerja terdapat sebuah papan tipis setebal 1 cm. Di atasnya ia menyulap dengan alat tatah dan gandennya sosok-sosok dan gambar-gambar tercantik.

O! Lihatlah terampil dan cekatan ia menggunakan peralatannya, betapa cepatnya ia berganti alat tatah. Tiap pukulan ganden diiringi denting riang alat tatah di atas meja. Ia meletakkan  alat  tatah  dan  ganden,  tangannya  meraih  ke  bawah  meja  dan  mengeluarkan sebuah kuas yang ia pakai untuk membersihkan serpihan kayu dari karyanya.

Ia sedang mengerjakan sebuah karya yang rumit. Sepotong kayu coklat muda dengan pola bergelombang harus menjadi tutup sebuah kotak kerja. Kayu itu adalah kayu ambalo dari  salah  satu  Pulau  Luar,  sangat  keras  dan  susah  dibentuk,  biasanya  dipakai  untuk warangka, namun seniman kami tahu cara membentuknya sesuai keinginannya. Potongan kayu itu harus diukir pada kedua sisinya dan dibingkai kayu sonokeling. Perpaduan yang membahagiakan! Efek perpaduannya mengejutkan, kayu ambalo yang terang dengan kayu sono yang gelap di tepinya untuk tutup kotak.

Jenis kayu apa itu, yang gelap, yang sedang dikerjakan? Itulah kayu sono, tumbuh di tanah ini.

Cantik ya, kayu gelap dengan gelombang cerah di dalamnya? Belum diukir pun sudah indah, bagaimana jika seniman pintar itu menghiasnya dengan seninya? Namun jangan tanya apakah pekerjaan ini menyenangkan. Alat-alat tatah yang telah aus itu, yang tiap kali harus berkenalan dengan batu asah, menunjukkan betapa kerasnya bahan yang dikerjakan sang pengukir.

Mengapa ada kertas ditempelkan ke kayu itu?

Penanyaku yang manis, lihatkah kau gambar dari arang di atasnya? Inilah pola ukirannya. Lihatkah kau bahwa sang seniman telah merancang pola baru di atas kertas, menempelkannya pada kayu dan memahat bagian-bagian yang tidak termasuk dalam gambarnya  dengan  sangat  sangat  dalam,  sehingga  figur-figurnya  muncul  dengan  jelas. Setelah itu, setiap garis ditatah terpisah, bunga-bunga dan daun-daun diukir membengkok dan membundar, dahan-dahannya dipertegas,  yang harus berakhir dengan posisi miring pada dasarnya. Sebelum ini terjadi, mereka meletakkan sepotong keras tipis, yang biasa dipakai untuk membuat layang-layang, di atas papan itu dan mengolesinya dengan campuran jelaga dan minyak. Dalam sekejap gambar itu telah berpindah ke kayu. Sangat sederhana, tapi cerdik sekali, bukan? Begitulah polanya dipindahkan, seakan-akan hanya dengan satu tarikan kuas.

Hati-hati dengan rokmu, nona, rumah Singo tidak punya lantai marmer, kau berlutut di atas bumi! Engkau tidak mendengarkanku: apakah engkau begitu dalam memerhatikan karya pria berkulit coklat itu? Beberapa saat yang lalu kau mengangkat hidungmu yang cantik itu terhadapnya.

Engkau benar. Apa yang terjadi di depan matamu patut diberi perhatian penuh : penciptaan sebuah figur wayang yang indah oleh alat tatah dan ganden yang dikendalikan oleh tangan yang luwes,cekatan dan percaya diri dari seorang seniman negeri ini.

O, o! Apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi, para sahabat? Apa yang membuatmu mencondongkan tubuhmu? Ah! Harta karunnya telah ditemukan! Kau tak tahu harus melihat ke mana. Banyak sekali!

Boleh kami bantu memilih beberapa harta mulia itu dan membawanya keluar untuk dilihat di bawah sinar mentari?

Tidak apa-apa. Kami berharap  melakukan pilihan yang tepat dengan mengangkat pelindung perapian yang indah ini dari tempat kelahirannya yang tersembunyi dan rendah kepada cahaya, agar tidak salah ditempatkan di ruang rias yang paling artistik!

Kita mulai dengan menghaturkan salam hormat kepada anda, wahai seniman rendah hati yang menciptakan karya seni ajaib ini! Engkau seniman besar karena kau sendiri, tanpa bimbingan ataupun bantuan, telah membawa karya seni mulia ini ke tingkat yang luar biasa, engkau yang dengan peralatan yang sangat sedikit mampu memunculkan keindahan ajaib itu!

Tempatmu bukan di sana, di debu di bawah kaki kami. Tempatmu tinggi di atas sana, jauh lebih tinggi daripada kami, yang engkau sebut „bendoro‟, namun sesungguhnya dalam segala kesederhanaanmu engkau lebih superior dengan seni surgawimu!

Suatu kepuasan bagi mata, kenikmatan bagi hati yang engkau perlihatkan kepada kami, wahai engkau seniman sederhana namun luar biasa. Mimpi indah jiwa halusmu digambarkan  dalam  garis-garis  indah,  kelokan-kelokan  menawan  dan  lekukan-lekukan lembut! Artistik murni gambarnya dan tanpa cela pengerjaannya!