Pameran Seni Kriya Pribumi pada bulan Juni 1902 di Batavia yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Oost en West sangat berhasil.

“Sebuah pencerahan!”

Orang-orang terheran-heran akan kemampuan penduduk pribumi yang sederhana itu. Tak  pernah  terpikirkan,  tak  pernah  disangka-sangka  bahwa  di  Hindia  begitu  banyak keindahan ada dan bisa ada!

Getar keharuan merambat di hati, kejutan, kegembiraan dan kekaguman berlomba- lomba muncul ketika pada pagi hari 5 Juni 1902 pengunjung yang hampir tak habis-habisnya memasuki pintu kuil tempat para pecinta seni dan sahabat Jawa mengumpulkan harta karun berupa karya-karya seni dari negeri sendiri, ekspresi artistik pribumi.

Keberhasilan ini belum pernah terjadi sebelumnya! Tujuan telah tercapai! Doa telah terkabulkan!

Dalam lingkungan berpengaruh di Hindia-Belanda telah bangkit perhatian terhadap karya seni pribumi dan telah berkurang pandangan melecehkan orang Eropa terhadap warga pribumi!

Masih ada keuntungan lain yang dihasilkan pekerjaan baik “Oost en West” bagi orang Jawa:  finansial.  Walau  karya-karya  seni  lainnya  juga  dipamerkan,  dalam  Pameran  ini terutama telah terjual karya tembaga – yang merupakan fokus utama pameran ini – senilai beberapa ribu gulden dan selanjutnya dipesan untuk nilai yang lebih tinggi lagi.

Dikatakan jumlahnya sebesar f 15.000,-. Pekerja tembaga di Surabaya telah mendapat pekerjaan untuk satu tahun. Dan Oost en West boleh berbangga keanggotaannya telah bertambah beberapa ratus orang.

O! Dan di antara karya-karya yang dipamerkan, yang telah sangat menggembirakan publik pecinta seni di Batavia dan sekitarnya, terdapat karya-karya yang berasal dari Japara!

Ukir kayu Japara!

Bagaimana kata itu dilafalkan? Jangan takut, kau yang berhati lemah, seni anak- anakmu dihargai dan akan semakin dihargai lagi dalam lingkup yang semakin besar!

Konon Oost en West berniat tak lama lagi menyelenggarakan pameran khusus karya ukir kayu Japara.

Benarkah kabar itu? Kami tidak tahu, tapi pada pameran etalase Sinterklas Oost en West di Batavia yang akan diadakan bulan depan, sudah dipastikan di antara berbagai karya pribumi akan ada beberapa karya ukir kayu Japara.

Anda sekalian yang telah mengagumi seni rakyat Japara, atau yang akan berkenalan dengannya, kekaguman Anda akan bertambah jika tahu bagaimana keindahan luar biasa ini dihasilkan.

Ikutlah ke sudut kami yang terlupakan, ke desa seniman di belakang benteng Portugis di atas bukit, yang karena letaknya bernama Blakang-Goenoeg. Intiplah bengkel kerja para pengukir kayu yang cakap itu, lihatlah mereka bekerja, saksikanlah ciptaan-ciptaan nan indah dan di sampingnya peralatan nan primitif yang mereka gunakan. Dan selain kekaguman dan rasa hormat akan karya seni mereka, Anda akan merasakan keyakinan tulus muncul dalam diri Anda, bahwa orang-orang berkulit coklat ini yang duduk dengan tenang di tanah, yang merendahkan dirinya guna menghormati Anda, adalah seniman sejak lahir!

Siapa yang membentuk mereka? Siapa yang membimbing mereka? Siapa yang mengajar membuat karya-karya memesona itu, menggambar secara mulia kepada  anak-anak kampung sederhana, yang di sini dijuluki orang “adoh lonceng, parak celeng” itu? Siapa? Siapa?

Lihatlah gambar mereka, betapa murni dan sempurna garisnya serta harmonis komposisinya! Tidak ada yang mengganggu corak warnanya, tak ada yang merusak tarikan garisnya yang anggun dan tenang! Apakah itu ranting ataukah daun, bunga, burung, naga, wayang, garisnya tetap sama anggunnya, sama tenangnya, bersama membentuk kesatuan yang harmonis.

Siapa yang mengajar para murid yang patut dihormati ini sehingga mereka dapat menggambar dan berkarya begitu artistik dan menawan?

Inilah  seni  rakyat,  telah  dikerjakan  sejak  entah  kapan  dan  diwariskan  dari  ayah kepada anak. Seluruh penduduk Blakang Goenoeng tidak lain adalah pengukir kayu dan pembuat perabot. Tua muda, semua putra Blakang Goenoeng memahami dan mengerjakan seni ukir kayu, baik yang sempurna, biasa maupun yang tidak bagus.

Dan uniknya, hanya di desa itulah seni yang indah itu dikerjakan, walau terdapat banyak desa perajin perabot lainnya di Japara.

Berkali-kali ditanyakan, mengapa orang-orang dari desa lain tidak mengerjakan seni ukir kayu dan juga tidak memelajarinya. Selalu dijawab: “Mereka tidak bisa. Hanya putra- putra Blakang Goenoeng yang bisa.”

Tapi kenapa tidak, tanya orang. Rakyat memercayai bahwa hanya Blakang Goenoenglah yang  beruntung memiliki Danyang pemahat kayu yang memberikan bakatnya hanya kepada keturunannya.

Marilah kita berkunjung ke desa di balik bukit itu, tempat tinggal keluarga seniman besar itu, dan melihat-lihat tempat kerjanya.

Naiklah dulu ke sampan penyeberangan dan seberangilah kali Japara, yang mengalir di kaki bukit menuju laut. Ikutilah jalan setapak di desa nelayan yang membawamu ke sebuah tempat terbuka di pantai.