(Artikel ini ditulis R.A. Kartini dan diterbitkan di majalah Eigen Haard, 3 Januari 1903. Diterjemahkan oleh Daniel F.M. Tangkilisan. Terima kasih banyak kepada Ibu Dr. Widjajanti Dharmowijono untuk penyempurnaan terjemahannya)

Jauh dari hiruk-pikuknya pasar, dari kesibukan, kegelisahan dan rasa diburu yang terasa di kota-kota besar, terletaklah Japara kecil yang sendiri dan ditinggalkan, tenang dan damai.

Di suatu masa yang telah lama berselang, kawasan ini cukup penting, namun kini telah bertahun-tahun menjadi sudut kecil yang usang dan terlupakan, tidak ada apa pun dan tidak didatangi seorang pun kecuali jika terpaksa. Tiada lagi yang mengingatkan akan kebesaran dan ketenaran masa lalu. Hanya benteng Portugis di atas bukit dekat kota yang terlihat dari jauh jika orang datang dari arah laut, mengisahkan kebesaran dahulu kala. Dan sebuah gamelan tua, sangat tua, yang tiap Senin pagi dan sore dibunyikan – oleh karena itu disebut “Gong Senen”, gamelan Senin – menggugah kenangan masa ksatria, saat suara sukacitanya memanggil para bangsawan menghadiri pertandingan, namun kini menakutkan orang asing dengan suaranya yang aus. Hampir tiap orang yang karena pekerjaan harus tinggal sementara di sini, menganggap dirinya terasing dan meratap putus asa: “Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Akankah aku keluar dari sini? Akankah aku lebih dulu mati bosan sebelum saat pelepasanku akhirnya tiba?” Tempat yang miskin dan salah dinilai!

Apakah kau membiarkannya, Japara, engkau yang dahulu menduduki tempat terhormat di antara kota-kota penting? Apakah kau membiarkan orang-orang meremehkan dan mencemoohmu?

Berdirilah tegak! Berbicaralah, buatlah namamu diucapkan dengan hormat dan takjub! Karena, oh, engkau tidak buruk, Japara, sama sekali tidak buruk! Engkau manis dan menawan dengan ketenanganmu yang damai. Jalan-jalanmu berpepohonan teduh, yang sangat mengundang orang berjalan menyusurinya. Sudut-sudutmu yang intim dicari untuk tempat pertemuan akrab penuh canda lincah dan tawa riang. Alun-alunmu yang cantik diselimuti permadani beludru hijau bertabur bunga warna-warni memekar dalam taman- taman anggun, dikelilingi pohon-pohon beringin yang menyembunyikan rumah-rumah di belakangnya, yang dengan manisnya memaparkan warna coklat merah atapnya dan warna putih dindingnya pada celah-celah tirai hijau mewah. Samuderamu yang surgawi, yang membuat kita lupa segala kekhawatiran duniawi kita, membuai kita dalam wahana semampai di atas buih gelombangnya, mengelilingi kita dengan nafasnya yang segar, sehat dan menguatkan. Pantaimu yang menawan, di sana hati terangkat oleh paparan alam nan naim, permainan warna dan cahaya nan megah yang menyihir mentari tenggelam pada kubah langit dan pada permukaan air beriak tak bertepi, yang riaknya kadang berkecipak lembut kadang mendesis ganas pecah di pasir putih bersih.

Sayang sekali tidak setiap orang menyadari kecantikanmu! Bagi mereka yang menggantungkan kebahagiaannya pada keberadaan manusia lain, keindahan alammu adalah sesuatu yang mengerikan!
Oh! Janganlah biarkan kesalahpahaman itu ada, ingatlah masa lalumu yang terhormat! Bangkitlah, balaslah dendammu! Paksalah khalayak ramai menyebutkan namamu dengan hormat dan takjub!

Jika para dewa berkenan, engkau akan berhasil!

Karena engkau kaya, Japara, lebih kaya daripada kota-kota kecil lainnya yang tidak dipandang; lebih istimewa daripada banyak kota besar, yang menawarkan kesempatan untuk bepergian tiap hari dan bersenang-senang, tempat yang ‘lebih menyenangkan’!

Engkau kaya, engkau istimewa karena engkau memiliki sebuah harta karun yang akan membuat banyak, banyak sekali orang iri jika saja mereka tahu, dan yang akan membuat Insulinde bangga.
Di tanahmu lahir, hidup dan bekerjalah sebuah keluarga seniman yang istimewa! Terlalu lama harta berharga ini tersembunyi, terkubur di bawah debu kelesuan. Harta
itu harus dan akan muncul!

Sepertinya dalam waktu tidak lama lagi perhatian masyarakat negeri ini, dan mungkin juga dari seberang lautan, akan terpaku pada harta tak ternilai itu, seni rakyat mulia di Japara yang dilupakan dan dihina.

Ada harapan, banyak harapan akan hal itu!

Ada sebuah pergerakan di Negeri Belanda beberapa tahun belakangan ini yang pasti akan menggembirakan hati setiap pecinta Jawa karena tujuannya adalah membangkitkan perhatian, cinta dan penghargaan terhadap tanah koloni di Negeri Belanda dengan menyebarkan pengetahuan populer tentang negeri dan bangsa di sisi lain khatulistiwa itu.

Terutama pengetahuan akan karya jari-jari berkulit coklat yang tangkas. Pada jari-jari itulah anak-anak alam di negeri mentari ini menaruh jiwanya. Pengetahuan itu akan membangkitkan perhatian dan penghargaan dalam hati setiap pecinta seni di Barat terhadap para saudara berkulit coklat. Hal ini akan membuahkan manfaat.

Diberkatilah para pemikir mulia yang menjadikan pergerakan terpuji ini kenyataan dalam bentuk Perkumpulan Oost en West yang, walau baru saja berdiri, telah banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan baik.

Di berbagai tempat di Negeri Belanda perkumpulan ini telah memiliki cabang dan tentu begitu juga di Hindia-Belanda. Cabang Pohon Induk di Belanda yang ditanam di ibukota Insulinde tumbuh subur berkat perawatan tak kenal lelah dan istimewa tangan-tangan unggul yang dipercaya mengurusnya. Dalam banyak hati tumbuhan muda ini telah membangkitkan harapan teguh akan buah-buah kaya yang akan dihasilkan bagi anak-anak negeri tempatnya tumbuh dan berkembang.
Beberapa bulan lalu pohon muda ini berbunga untuk pertama kali, dan bagi para perawatnya yang tak kenal lelah dan penuh kasih ini adalah kepuasan yang manis, hanya ada satu suara: ”Sangat indah.”