Rumah Kartini – Kota Japara terus menggeliat dengan segala aktivitasnya, ,mulai dari industri furniture hingga belakangan industri pabrik garmen yang mulai menjamur di beberapa kawasan di Japara.  Tak ayal segala kesibukan tersebut menutupi keberadaan tempat-tempat bersejarah, seperti halnya museum R.A. Kartini.

Ya, sebagai tempat yang memotret sejarah di masa lampau, musium Kartini kurang begitu diminati, apalagi bila yang ada display hanya barang-barang kuno dan tempatnnya pun nampak gelap gulita. Alhasil, di masa kini banyak yang kurang terkait sejarahnya sendiri, sejarah bangsanya, sejarah kotanya sendiri. Padahal, Soekarno pernah bilang jangan sampai melupakan. Lantaran dengan mengetahui seharahlah kita mengenang jasa-jasanya dan melanjutkan perjuangannya.

Bahkan, sebagai kota tempat kelahiran Kartini, tak banyak yang tahu tentang Kartini. Suatu nama yang begitu populer  memperjuangkan kebebasan berlebih kaitannya dengan emaansipasi wanita.

Untuk itu, Rumah Kartini sebagai komunitas yang konsen terkait sejarah, seni dan budaya Japara ingin merespon Museum R.A. Kartini yang sekarang kurang begitu diminati oleh pengunjung dari masyarakat Japara khususnya, mencoba membuat sebuah mural (lukisan tembok) yang dikemas dalam unsur estetik. Selain itu, mural tersebut juga bercerita tentang kehidupan Kartini yang berhubungan dengan seni dan budaya di Japara saat itu.

Mural yang dibuat oleh  Rumah Kartni menghadirkan beberapa makna dan dan pesan untuk semua lapisan masyarakat. di antaranya adalah sebagai simbol tempat (symbol of place). Adapun mural Icon R.A Kartini yang kami stimulasi dalam bentuk traceeng yang bertempat di tengah frame sebagai centre of interest . selain itu Mural kartini tersebut juga dikelilingi oleh ranting bunga dan ornamen Japara yang rumit juga detail sebagai ciri khas ornament Japara sendiri.

Sedangkan simbol tangan membawa pahat & palu menunjukkan bahwa, Japara memilikin ciri khas sebagai pengukirr yang merupakan Japara Skill Heritage. Selain itu, simbol tersebut ini memberi pesan bahwa keahlian masyarakat Japara yang turun temurun ini harus dihargai oleh masyarakat & pemerintahan Japara untuk kemajuan dan kesejahteraan kabupaten Japara sendiri.

seni mural museum kartini oleh komunitas Rumah Kartini Japara Indonesia

Adapun simbol tangan kiri seorang perempuan yang membawa sebuah pena  memberikan ciri khas kegemaran Kartini dalam menulis surat untuk saudaranya maupun teman-temanya di Belanda. Menulis tentang kegelisahannya  dan juga keinginan bagi warganya untuk mengenyam pendidikan.

Sedangkan simbol Ke empat, sebuah tangan memegang canting sebagai gambaran kegiatan kesenian R.A. Kartini ketika membatik. Sayangnya, Batik Kartini tidak ada dalam Museum. Sampai saat ini, masih menjadi pertanyaan entah di mana karya batik R.A. Kartini yang selalu dipakai pada acara acara resmi itu sendiri.

kegiatan seni mural museum kartini oleh komunitas Rumah Kartini Japara Indonesia

Dan yang terakhir adalah, sepenggal kalimat yang ada dalam kumpulan surat R.A. Kartini “Door Dusternis Tot Licht”   Dari Kegelapan menuju Cahaya. Kalimat tersebut mengisi ruang-ruang pita yang berada tepat di bawah wajah Kartini. Adapun simbol tersebut mempunyai makna dan sekaligus doa. Semoga kota Japara mencapai kejayaan, sebagaiamana yang pernah terjadi.

Diperlukan waktu yang cukup lama dalam proses mural di Museum Kartini Japara ini. Pasalnya, pengerjaannya harus hati-hati dan detail. Selain itu diperlukan yang cukup tinggi untuk mengerjakannya.

Baca Juga :

Di Balik Reproduksi Gong Senen Japara

Pusaka Seni Kriya Japara 

Proses Konstruksi Pusaka Gong Senen Japara