Gong Senen Japara – Satu persatu kerajaan di pesisir utara Jawa mulai dikuasai Kerajaan Mataram pada abad ke 17, tak terkecuali Kerajaan Japara. Sejak saat itulah Japara menjadi kota pelabuhan kerajaan Mataram dan dipimpin oleh adipati yang ditunjuk langsung oleh Raja.

Raja Mataram mendapuk Raden Mas Bagus Djiwosoeto, putra Raden Tumenggung Reksodjiwo bupati Kedungkiwo untuk menjadi Adipati di Japara. Baru kemudian diberi gelar Tjitrasomo ketika ia diangkat sebagai Bupati. Sejak saat itulah dinasti Tjitrasomo secara turun temurun menjadi penguasa di Japara sampai tujuh generasi.

Adipati Tjitrosomo I dikenal sebagai seorang arsitek dan seniman yang handal. Untuk itu pada masanya ia membuat artefak yang berharga. Sang adipati dibantu dengan para seniman yang handal di masanya membuat Gayor Gong dari kayu jati yang dipenuhi dengan ukiran. Namun, sebelum Gayor Gong tersebut rampung dibuat, Adipati Tjirosomo I wafat.

Pembuatan Gayor Gong pun dilanjutkan oleh putranya, Mas Ngabei Sumowijoyo, yang menggantikan posisinya sebagai adipati, yang selajutnya bergelar Tjitrosomo II. Akhirnya Gayor Gong tersebut diperkirakan rampung dibuat pada tahun 1750. Masyarakat setempat menyebutnya Gong senen, karena konon katanya hanya dapat dibunyikan oleh warga dari Desa Senenan, dan hanya dibunyikan pada hari senen. Kebenaran kisah ini sebenarnya sulit untuk ditelusuri lantaran minimnya data. Namun, yang jelas pada masa itu masyarakat di Desa Senenan telah dikenal sebagai pembuat ukir relief, salah satu jenis ukiran yang membutuhkan keahlian tinggi dan jarang dimiliki karena bersifat turun temurun.

Gong tersebut terbuat dari perunggu lengkap dengan Gayor berukiran relief dan kerawang. Motif ukiran flora mendominasi, terutama sulur – suluran, daun dan buah. Bentuk ukiran lebih luwes daripada ornamen ukir di masjid Mantingan dan diperkirakan mendapat pengaruh dari gaya barok dari Eropa yang saat itu menjadi seni kontemporer dan sangat digemari.

Bahkan Kartini yang merupakan putri dari Sosroningrat, Bupati Japara pada masa itu sempat menyinggungnya dalam sebuah tulisan promosi industri mebel majalah Eigen Haard. Tertanggal 3 Januari 1903 dengan judul Van een Vergeten Uithoekje atau Dari Sudut yang Terlupakan.

Tiada lagi yang mengingat kebesaran dan ketenaran masa lalu. Hanya Benteng Portugis di atas bukit dekat kota yang terlihat dari jauh jika orang datang dari arah laut, yang mengisahkan kebesaran masa lalu. Dan sebuah gamelan tua, sangat tua, yang setiap Senin pagi dan sore dibunyikan – oleh karena itu disebut ‘Gong Senen’ atau gamelan Senin.  Bunyinya menggugah kenangan pada masa ksatria, saat suara sukacitanya memanggil para bangsawan menghadiri pertandingan. Namun kini suaranya menakutkan orang asing karena suaranya yang aus sehingga sulit disebut gamelan

Dari tulisan tersebut tampak bahwa Gong Senen sudah sangat tua dan benar-benar ada di sana. Bersama dengan tulisan tersebut, disertakan pula sejumlah foto Kartini dan keluarga dan foto-foto produk yang telah ia buat guna dijadikan pendukung artikel.

Meski banyak yang menganggap Gong Senen sebagai benda keramat dan berbagai macam mitos disematkan. Bagi Rumah Kartini, Gong Senen adalah prasasti sejarah yang mempunyai nilai filosofi tentang kehidupan yang dikemas dalam visual untuk barang fungsional sebagai proses kebudayaan dan spiritual.

Selain itu, Gong Senen adalah bukti prasasti seni rupa yang berhubungan dengan seni ukir. Itulah mengapa Rumah Karitini sebagai komunitas yang konsen untuk berkontribusi mengumpulkan, mempelajari data-data sejarah yang berhubungan dengan seni, budaya dan pusaka juga berkesenian mereproduksi Gong Senen untuk pembelajaran pada generasi mendatang  tentang kriya dan Japara lebih luasnya.

Proses Reproduksi

Untuk mereproduksi  Gayor Gong Senen tersebut, Rumah Kartini tidak hanya beriktiyar laku dohir saja. Akan tetapi juga dengan laku batin. Sebagai masyarakat Jawa yang kental dengan perilaku menghormati leluhurnya. Sebelum melaakukan proses reproduksi, Rumah Kartini berziarah ke beberapa makam dan berkunjung sesepuh yang mempunyai kaitan dengan gong senen. Selain itu melakukan ritual selametan, berdo’a kepada Allah SWT supaya senantiasa dianugrahi keselamatan dan kekuatan dalam menyelesaikan reproduksi ini.

Pada awal proses, Rumah Kartini sudah mulai mendapatkan rintangan, yakni kesalahan dalam membuat Rancangan Anggaran Biaya (RAB). Kenyataan di lapangan ketika sudah mulai proses pembuatan gayor Gong Senen ternyata berbeda. Anggaran membengkak sampai 7 kali lipat. Akan tetapi Rumah Kartini tidak menyerah begitu saja. Kami tetap melanjutkan pembuatan Gayor Gong Senen ini , lantaran mengingat karya ini nantinya akan menjadi pengingat bagi generasi selanjutnya bahwa pada masa itu masyarakat Japara sudah memiliki tradisi kesenian yang sangat hebat dan luar biasa.

  • Proses Research

Proses pencarian data terakait Gong Senen yang melegenda itu sesungguhnya sudah dimulai sejak 2013. Saat itu Rumah Kartini mendapat foto Gong Japara yang berwarna hitam putih  dari museum di Belanda dan kemudian diperkuat dengan mendapatkan data dari Kemendikbud yang diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Ditambah juga mendapat foto dari majalah kuno yang salah satu penulisnya adalah Notosuroto.

Selain dari foto tersebut, Rumah Kartini juga menggali data dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakata Jepara, khususnya Desa Senenan. Ditambah juga dengan surat-surat Mbah Kartini yang memang sempat menulis tentang Gong Senen itu, meski tidak tertulis secara detail, tapi cukup membantu dalam proses pencarian data kami.

Dalam pencarian data terkait Gong Senen itu, kami menemui dua narasumber yang memang berkaitan erat dengan Gong Senen. Narasumber yang pertama kami temui adalah Mbah Rusmi, yang merupakan istri dari Mbah Sarpan, salah satu tokoh yang dituakan di Desa Senenan dan juga pemangku spiritual Gong Senen kala itu.

Ketika kami menyodorkan foto Gong Senen kepadanya, Mbah Rusmi nampak takjub, seperti sedang memutar kembali memorinya di masa lampau. Kemudian ia mengatakan bahwa ia pernah melihat gong tersebut berada persis di sebelah kiri pendopo Japara. Ia mengaku, terakhir kali melihat gong tersebut di sekitar tahun 1958-1960 an.

“Kondisi gong Senen pada saat itu di bagian bawahnya sudah ada yang retak” paparnya.

Sementara itu, narasumber yang kedua, sebagai tokoh yang disepuhkan di Desa Senenan mengatakan, pernah datang ke Pendopo dan melihat secara langsung Gong Senen dengan bentuk yang besar dan di gayornya terpada berbagai macam ukiran yang bagus dan detail.

Akan tetapi beliau kurang tahu menahu terkait ukuran pastinya, kendati demikian ia menegasakan bahwa di kebudayaan Jawa terdapat hitungan pakem Jawa yang sampai saat ini masih banyak dipercayai masyarakat Japara khususnya Desa Senenan.

Dalam proses penelitian ini, Rumah Kartini sempat dipusingkan dengan ukuran Gong Senen serta detail-detailnya. Seperti halnya Gayor Gong yang kami sendiri belum tahu ukurannya dan ketebalanya. Alhasil, Rumah Kartini dengan dibantu beberapa ahli menggunakan skala perbandingan, selain itu juga menambahkan perhitungan Jawa yang dibantu oleh spiritualis untuk mengetahui ukuran tersebut.

Sejarah-proses-rekonstruksi-Gong-Senen-Rumah-Kartini-Japara-Indonesia

  • Proses Menggambar Motif Gayor

Dalam proses pembuatan gambar motif ukir Gayor Gong Senen Japara, Rumah Kartini menggunakan teknik manual, yang digambar beberapa kali. Baru kemudian setelah didiskusikan dan fix, kami menempelnya di media kayu yang akan diukir .

Ada beberapa kejadian menarik dalam proses ini. Di antaranya adalah seringnya terjadi trouble pada media komputer yang kami gunakan. Seperti halnya, filenya rusak dan beberapa kali ketika diprint ukuran kiri dan kanan ada yang berbeda dan selisih.

Setelah kami telusuri, ternyata ada beberapa laku spritual yang perlu dilakukan. Dan setelah itu baru bisa berjalan dengan lancar. Tidak masuk akal memang, tapi begitulah kenyatannya, tidak hanya laku dzahir saja yang harus maksimal, tetapi batin juga.

Setelah proses menggambar selesai, kami menempelkannya pada media kayu yang tersedia untuk melanjutkan proses pengukiran. Dalam proses pengukiran ini, Rumah Kartini menggunakan skema Rumah Jawa, yakni memulai pengukiran dari umpak bawah, kemudian bagian 2 Saka dan bagian tengah kemudian terakhir bagian dinding kiri dan kanan saka.

Menariknya, dalam proses pengukiran ini harus dikerjakan oleh lima orang, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Selain itu harus dari warga Desa Senenan. Untuk itu, selain harus menemukan seniman terbaik lantaran pengerjaannya yang sulit dan detail sesuai foto referensi, Rumah Kartini harus sudah siap memasang cadangan untuk mewanti-wanti bilamana ada salah satu pengukir yang mundur atau sudah tidak konsen waktu pengerjaan.

Benar saja, tidak banyak seniman yang bersedia ikut membuat Gayor Gong Senen. Pasalnya, kebanyakan dari mereka takut lantaran di Japara, khususnya di Desa Senenan, Gong Senen merupakan benda yang dikeramatkan. Bahkan, ada juga seniman yang awalnya bersedia tapi lantaran ada tekanan batin dalam membuat gong tersebut akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.

  • Bagian Kontruksi Gong Senen

Pembacaan karya Gong Senen Japara ini seperti membuat candi. Dari bawah yang disebut tangga atau umpak, terlihat 2 ular / naga jawa yang disebut penjaga atau kehidupan bawah sebagai penjaga pada pintu masuk. Makara yang di tengah adalah sebuah pintu yang dijaga oleh seorang adipati citrosomo dengan dikelilingi candra sengkala.

1. Umpak ( adalah konstruksi paling bawah) :

Dalam bangunan Jawa, bagian yang paling bawah dari sebuah kontruksi disebut dengan umpak. Pada umpak Gayor Gong Senen terdiri dari 5 bagian. Di bagian yang paling bawah/dasar mempunyai ukuran panjang 81 cm, mempunyai lebar 63 cm dan ketebalan 12 cm. Adapun umpak bagian tengah mempunyai panjang 66 cm, lebar 45 cm dan ketebalan 13 cm. Sedangkan umpak bagian atas meempunyai ukuran panjaang 203 cm, lebar 27 c dan ketebala 11 cm.

Dilihat dari motif ukirnya, pada bagian umpak terdapat motif daun repeat yang mengelilingi di setiap sisi umpak, selain itu terdapat juga lingkaran kecil yang membatasi daun tersebut.

Adapun proses pengukiran bagian umpak yang berjumlah 5 bagian ini dipahat oleh seniman ukir yang bernama sodin, salah satu seniman asal Desa Senenan yang memang mahir di bidangnya. Dalam proses pengerjaannya, posisi kayu harus dalam posisi berdiri (beda dengan bagian lainnya). Proses pengukiran umpak ini memakan waktu 5 bulan.

2. Soko (Penyangga Utama Gayor Gong Senen)

Pada Gayor Gong Senen terdapat dua Soko atau penyanggannya. Kedua soko ini masing-masing mempunyai ukuran panjang 215 cm, lebar 17 cm dan ketebalan juga 17 cm.

Bila dilihat dari motifnya, pada bagian soko ini terdapat motif ukir yang hampir sama antara kiri dan kanan. Jika diperhatikan dari bawah akan nampak pot bunga yang mempunyai suluran tangkai daun dan bunga yang saling bertemu antara dua tangkai hingga menjulur ke atas. Adapun di bagian kanan soko terdapat sedikit perbedan pada tangkai. Motif ukiran tersebut memakai motif daun Japara yang hingga kini masih banyak ditemui.

Pada bagian luar soko terdapat motif yang menyerupai motif kopi pecah pada batik keraton.  Menariknya pada soko tersebut terdapat gambar dua tokoh yang dipercaya oleh masyarakat Japara dari daerah Senenan dan Sukodono. Pada bagian kanan soko disebut dengan Tunggul Wulung, sementara tokoh yang berada di sebelah kiri disebut dengan Sentono.

Proses pengukiran pada bagian dua soko ini awalnya dikerjakan oleh Mas Ngateman. Namun, lantaran suatu kendala dan tidak konsentrasi lagi mas ngateman mengundurkan diri, proses pengukiran ini dilanjutkan oleh Mas Badrus. Memang, proses pengukiran soko ini bukanlah hal yang mudah, selain harus teliti, motif dan detail soko ini mempunyai bentuk yang kecil. Jadi, setiap mengerjakannya harus sering melihat foto referensi dan memukul pahatnya dengan cara hati-hati supaya ukirannya nampak halus (tanpa diamplas).

Pada proses pembuatan patung dua tokoh juga terdapat kisah yang menarik, awalnya dua tokoh itu dipahat oleh salah seorang seniman patung Jepara, tapi setelah berjalan satu minggu ternyata belum terlihat hasilnya sama sekali. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berhenti.

Setelah ditelusuri oleh Rumah Kartini, seniman tersebut mengaku takut lantaran beberapa alasan yang tak masuk akal. Seperti halnya tiba-tiba gelap ketika memahat dan lain sebagianya. Akhirnya proses pengukiran dua tokoh itu dilanjutkan oleh Mas Badrus. Adapun total pengerjaan dua soko Gayor Gong Senen ini memakan waktu sampai empat bulan.

3. Dinding Tengah Bawah :

Dinding tengah pada bagian bawah Gayor Gong Senen mempunyai ukuran panjang 88 cm, lebar 96 cm dan ketebalan 5 cm. Pada motif ukir dinding tengah bagian bawah terdapat simbol makara pada tradisi Hindu-Jawa sebagai pintu masuk. Simbol makara tersebut distilasi sangat bagus ditambah dengan dedaunan, relung dan suluran yang mengelilinginya.

Selain itu terdapat juga ukiran seorang tokoh yang sedang bersila di atas bunga lotus. Tokoh ini dipercaya sebagai pengayom Japara. Dia adalah Adipati Citrosomo I, busananya layaknya seorang raja dan tangan kirinya memegang sebuah pusaka.

Pada bagian kanan dan kiri dinding tersebut terdapat suluran yang rumit dan luwes. Selain itu juga terdapat beberapa daun dan buah yang mengisi bidang dinding tengah Gayor Gong Senen tersebut.

Dinding tengah bagian bawah Gayor Gong Senen ini diukir oleh tiga orang seniman secara bergantian. Tiga orang itu adalah Mas Ngateman, Mas Kardi dan Mas Badrus. Hal ini dimaksudkan supaya tidak terjadi kebosanan dalam proses berkesenian. Pasalnya, selain memang rumit, dalam pembuatan ukiran ini dibutuhkan keseriusan dan ketelitian yang cukup tinggi untuk menyamai foto refernsi gong senen Japara.

4. Lingkaran Tempat Gong

Pada Gayor Gong Senen terdapat lingkaran yang memang berfungsi sebagai tempat gong. Lingkaran ini memang cukup menarik lantaran mirip seperti badan ular Jawa yang tengah melingkar. Lingkaran ini memiliki diameter 65 cm, lebar 20 cm dan ketebalan 9 cm.

Bila dilihat sekilas, pahatan yang terdapat pada lingkaran tersebut nampak seperti sisik ular satu arah. Akan tetapi jika dilihat lebih detail, ternyata dalam pahatan tersebut terdapat dua badan ular yang saling bertemu  dengan pembatas seperti bentuk sabuk/ cincin yang dihiasi dedaunan dan bunga.  

Untuk itu dalam proses menggambar kayu ini dibutuhkan waktu cukup lama. Pasalnya, bagian depan dan belakang lingkaran kayu harus sama dan juga dua bagian ular harus bertemu. Dalam proses penggambarannya memakai ilmu matematika dan skala pada pembagian dan estetikanya. Alhasil, Rumah Kartini menugaskan proses penggambaran ini kepada Saniman (pembuat macan kurung) untuk membantu dalam menggambar sisik ular yang kala itu berlangsung selama dua hari.

Namun ternyata pada prosesnya masih beberapa sisik yang tidak bertemu. Alhasil kami melakukan penggambaran ulang. Penggambaran ulang itu pun berlangsung selama 2 minggu yang beberapa kali ada kesalahan dan harus mengulang kembali supaya sisik dari dua ular saling bertemu antara kiri dan kanan depan, belakang harus sama.

Setelah proses menggambar yang begitu melelahkan, barulah kami masuk ke tahap pengukiran. Dalam proses ini, Mas Utoyo, seniman asal Desa Senenan yang didapuk untuk mengerjakannya. Lantaran untuk mendapatkan hasil yang detail dan maksimal, Mas Utoyo beberapa kali harus merubah posisi ketika memahatnya.

Sekilas nampaknya sederhana, tapi dalam perjalanannya ternyata memerlukan waktu yang cukup lama juga. Mas Utoyo harus memastikan sisik ular baik di bagian kanan maupun kiri dengan jumlah yang sama. Tak hanya itu, dalam bentuk sisik naga itu juga ada semacam sisik lagi yang lebih kecil lagi. Untuk membuatnya pun diperlukan tekhnik khusus yaitu dengan teknik getak cawen.

Di bagian tengah lingkaran tempat gong tersebut juga terdapat sabuk atau pengait, sementara pada bagian atas dan bawah juga terdapat bunga dan daun seperti motif eropa.

6. Dinding tengah Atas

Pada dinding tengah atas bagian Gayor Gong Senen memiliki simbol flora dan fauna yang begitu menarik. Berlebih pada ukiran burung merak yang melebarkan sayap dan ekornya dengan indah, nampak begitu megah dan menawan bagi siapa saja yang memandangnya.

Setiap detail pada bagian merak ini mempunyai makna filosofis tersendiri. Di bagian bulu ekor misalnya, ada tiga lapisan dari atas hingga bawah. Di lapisan ekor paling atas terdapat 21 bulu, di bagian tengah ekor terdapat 11 bulu, sedangkan di bulu ekor bagian bawah terdapat…..

Di bagian sayap merak tersebut juga terdapat tiga lapis bulu. Di setiap lapisnya terdapat 7 bulu. Jadi di setiap sayap merak itu memiliki 21 bulu. Tak hanya itu, di setiap bulu memiliki detail coretan. Yang mana setiap bulunya memiliki 10 coretan.

Jika diperhatikan dengan seksama, merak tersebut memakai mahkota di kepalanya, dengan mahkota berbentuk seperti bunga teratai. Di bagian mulut merak terdapat semacam pengait untuk tempat menempatkan penabuh gong.

Ukiran merak yang nampak gagah tersebut menumpang di atas sisik ular yang melingkar yang menjadi tempat Gong Senen.

Tak lupa juga di bagian kiri dan kanan terdapat bentuk flora yang berirama sangat indah. Selain sebagai penghias ukiran berbentuk flora ini juga berfungsi sebagai penopang bagian atas. Ukiran pada dinding tengah atas tersebut dikerjakan oleh 5 seniman asal desa Senenan, mereka adalah Badrus, Sodin, Nardi, Utomo, dan Ngateman.

7. Dinding Samping

Pada dinding samping Gayor Gong Senen, masing-masing tiang terdapat seekor ular Jawa bermahkota Badhog yang ekornya menempel pada tiang. Binatang ini, menurut mitologi Jawa-Hindu dapat dianggap sebagai pelindung dan pengayom. Pada bagian leher atau kepala bagian depan belakang terdapat stilasi yang berbeda dengan ular jawa pada umumnya.

Selain itu pada dinding samping ini juga terdapat motif ukiran berbentuk flora yang saling terkait menjulur indah. Dinding samping ini berukuran panjang 197 cm, lebar 50 cm dan ketebalan 5 cm. 5 seniman asal Desa Senenan bergantian mengerjakan dinding samping Gayor Gong Senen ini.

Finishing

Setelah proses pengukiran selesai, tahap selanjutnya adalah finishing. Tapi sebelumnya kami menganalisa dahulu beberapa peninggalan benda pusaka Jawa di zaman dahulu, seperti halnya menganalisa “gagang” keris yang menjadi pusaka di zaman dulu. Baru setelah itu kami baru menyimpulkan warna yang tepat pada setiap lapisan Gayor Gong Senen, dan memilih bahan-bahan alami untuk proses finishing ini.

Untuk proses penghalusan kayu kami menggunakan daun pisang yang sudah kering, adapun dalam pewarnaannya kami menggunakan tembakau dan teh yang kami frementasi dengan cara tradisional supaya mendapatkan warna alami yang sempurna.

Tembakau kami rebus, dan kami frementasi selama 4 bulan. Fungsi dari teh ini selain sebagai pewaranaan dasar pada Gayor Gong Senen juga berfungsi sebagai anti ternit dan anti hama, karakter warna yang muncul dari tembakau adalah coklat tua.

setelah pewarnaan dengan tembakau, kami melanjutkan pewarnaan dengan frementasi. Setelah teh kami rebus, kami endapkan cukup lama sekitar dua bulan. Hal in dilakukan untuk menghilang pigmen pada teh. Adapun fungsi sendiri hanya untuk pewarnaan saja, karakter warna yang ditimbulkan dari teh adalah coklat kekuning-kuningan.

Kemudian pada lapisan akhir kami menggunakan getah pinus, sarah paloh dan minyak kelapa yang di mix untuk dijadikan malam. Ketiga bahan itulah yang menjadi lapisan akhir dari gayor Gong Senen Japara selama 1,5 Tahun.

Baca Juga :

Di Balik Reproduksi Gong Senen Japara

Pusaka Seni Kriya Japara 

Proses Konstruksi Pusaka Gong Senen Japara