Karya Seni Lukis Kartini Japarai– Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita yang terkenal hingga ke penjuru dunia bahkan namanya diabadikan sebagai wanita yang harum namanya. Kendati demikian, kesenian Japara  tak luput dari perhatian Kartini. Dalam buku “The Complete Writings 1898-1904” karya Jost Cote, dikemukakan banyak sekali surat-surat Kartini yang membahas tentang kesenian dan kriya Japara.

Berdasarkan surat-suratnya itu, tampak bahwa Kartini adalah tokoh sentral kebangkitan seni ukir Japara yang sebelumnya terpuruk cukup lama. Setelah masa pembuatan Gong Senen karya Adipati Tjitrosomo nampaknya memang kesenian Japara seperti mati suri, belum lagi ditambah karena pengaruh perubahan penguasa dan mulai ditinggalkannya pelabuhan Japara lantaran sedimentasi dan perubahan era seni yang digemari.

Sejak pingitan mulai dibuka perlahan, Kartini dan kedua adiknya membuat motif-motif terbaru yang dikembangkan dari ukiran gayor Gong Senen, Rumah-rumah tua milik para pegawai di Japara, masjid dan makam mantingan serta memasukkan unsur wayang dalam kreasinya. Karya-karya Kartini dan adiknya  kemudian dipamerkan di Belanda.

Ternyata banyak yang terbelalak melihat karya-karya Kartini dan kedua adiknya itu. Bahkan Ratu Wilhelmina dan ibunya sangat kagum. Pameran yang dihelat tahun 1989 di Den Hag itu lah awal mula mereka dikenal secara luas di dunia.  Ketiganya mendapat sambutan yang luar biasa atas kerajinan-kerjinan yang dipamerkan. Alhasil, banyak yang ingin memiliki hasil kreasi mereka.

Dari hari ke hari, tiga bersaudara yang terkenal dengan Klaverblad van Japara mulai dikenal, lebih-lebih tulisan Kartini beberapa kali dimuat menggunakan nama pena yang sama. Sehingga tak heran bila kemudian banyak pesanan yang diterima oleh mereka.

Tak perlu waktu lama, Oost en West yang memang bertujuan menggalakkan kesenian di Hindia,  mengangkat kartini dan adik-adiknya sebagai agen produk kerajinan kayu dan lainnya, seperti sisir, kotak dari cangkang kura-kura, kain dringin, kain palngi, dan juga batik. Keberhasilan Kartini dalam pameran tersebut mendorong dan sekaligus menginspirasi dia untuk membantu pengrajin yang ada di Japara mendapatkan tambahan penghasilan.

Dibutuhkan penelitian yang mendalam untuk mereproduksi Frame, lukisan dan stijger ini. Selain dengan cara membaca surat-surat Kartini berlebih dalam kaitannya membahas karya seni di Japara, Rumah Kartini juga banyak berdiskusi dengan para peneliti dan kurator nasional, seperti halnya Nano Warsono, Anjib, dan Bambangtoko. dimaksudkan supaya menghasilkan karya repro yang presisi.

Dalam foto lukisan hitam putih itu, awalnya yang nampak hanya tiga leher angsa. Tapi kemudian setelah diteliti dan dianalisa beberapa hari, nampak ada satu leher angsa lagi yang berada di tengah di antar dua angsa.

karya-seni-Lukis-4-Angsa-Rumah-Kartini-Jepara-Indonesia

karya-seni-Lukisan-4-Angsa-Rumah-Kartini-Japara

Empat angsa itu, menurut para kurator, menyimbolkan  Kartini, Kardinah, Roekmini dan Sosrokartono. Tiga angsa nampak berkumpul dalam satu kesatuan, sedangkan satu angsa terlihat mengawasi. Itu seperti halnya Kartini, Kardinah dan Roekmini yang menghasilkan karya-karya dan sering berkumpul, sementara Sosrokartono berada di belakang mereka, selalu mensuport dan memberi pengarahan.

Berdasarkan foto tersebut, Rumah Kartini mereproduksi karya tersebut dengan memakai bahan kayu jati lantaran warnanya yang terang. Kemudian dilakukan proses pengopenan supaya kayu tersebut kering, terbebas dari getah-getah yang biasanya masih tersimpan.

Menariknya, kendati lukisan empat angsa bergaya realis eropa, tetapi dalam frame tersebut memakai desain ukir khas kriya Japara. Sepertinya kartini ingin memasukkan desain figura yang berisi berbagai macam ukiran untuk mengenalkan desain ukiran Jepara.

Dalam desain figura itu terbagi dalam tiga komponen, yakni luar tengah dan dalam. Adapun motifnya berbentuk simetris, kiri kanan, dan atas bawah. Dalam motif ukiran frame tersebut, ukirannya berbeda dengan motif Jepara saat ini. Pasalnya, motif yang dipake menggunakan motif di tahun 1900an

Setelah pembuatan desain disetujui, Rumah Kartini melanjutkan proses konstruksi. Dalam pengukiran untuk frame lukisan secara manual melibatkan seniman lokal Agus Gendut.  Adapun lukisan empat angsa dengan latar belakang eropa  dibuat oleh Totok Pitik.

Setelah proses lukisan dan pengukiran frame selesai, baru masuk ke tahap finishing. Dalam proses finishing menggunakan bahan alam dari frementasi tembakau yang direndam selama empat bulan.  Alat yang digunakan memfinishing frame dan lukisan tersebut juga tradisional, yakni seperti kuas dan alat sangkling.

Koleksi-karya-seni-Lukis-4-Angsa-Rumah-Kartini-Japara-Indonesia

Frame lukisan tersebut mempunyai ukuran panjang 59 cm dan lebar 40,5 cm. Adapun ketebalannya adalah 3 cm. Lukisan yang berada di bagian dalam berbentuk elips dengan diameter vertikal 46 cm, dan diameter horizontal 29 cm.

Selain frame dan lukisan, Rumah Kartini juga mereproduksi Stijger. Tidak seperti frame dan lukisan pada umumnya, kartini sengaja menjual Frame dan lukisan lengkap disertai dengan Stijger. Tapi bila diperhatikan, Stijger ini berbeda dengan Stijger pada umumnya. Pasalnya, selain sebagai tempat penyanggah, dalam stijger ini juga terdapat kuncup di bagian atasnya. Sehingga nampak lebih menarik dan mempunyai nilai seni yang berbeda.

Koleksi-karya-seni-Lukis-4-Angsa-Rumah-Kartini-Jepara-Indonesia